"Angka ini terdiri dari nilai ekspor yang sebesar US$14,79 miliar dikurangi nilai impor yang hanya US$4,87 miliar," demikian tercantum dalam laporan BPS yang dirilis, Jumat (1/8/2025).
Penyumbang surplus terbesar Indonesia dengan AS ialah mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, pekaian dan aksesoris rajutan, serta alas kaki.
Selain AS, neraca perdagangan Indonesia juga mengalami surplus terbesar kedua dengan India, yakni mencapai US$6,59 miliar. Kemudian, surplus terbesar ketiga dengan Filipina, sebesar US$4,4 miliar.
Sepanjang Januari-Juni 2025, neraca perdagangan barang Indonesia secara total mengalami surplus US$19,48 miliar, naik US$3,9 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu. Dengan capaian ini, maka neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus selama 62 bulan berturut-turut.
Sebelumnya, Gedung Putih pada Kamis (31/7) merilis penyesuaian tarif timbal balik atas impor dari sejumlah mitra dagang, sebagai bagian dari upaya mengurangi defisit perdagangan dan meningkatkan penerimaan negara.
Tarif yang telah disesuaikan ini akan mulai berlaku dalam tujuh hari ke depan, tepatnya pada pukul 00.01 waktu Washington.
Pemerintah AS menetapkan tarif minimum sebesar 10% untuk sebagian besar negara yang tidak termasuk dalam daftar tertentu. Barang-barang yang terbukti dialihkan (transshipment) untuk menghindari tarif yang lebih tinggi akan dikenakan bea tambahan. Beberapa negara seperti China, Kanada, dan Meksiko berada dalam jalur perdagangan yang berbeda dan diatur melalui perintah terpisah.
(lav)

























