Logo Bloomberg Technoz

Selain ROJALI, berikut adalah singkatan kreatif yang menggambarkan perilaku pengunjung mal yang ramai dibicarakan:

  • ROHANA – Rombongan Hanya Nanya: hanya datang untuk bertanya tanpa niat membeli.

  • ROHALUS – Rombongan Hanya Elus-Elus: menyentuh atau mencoba barang tanpa membelinya.

  • ROHALI – Rombongan Hanya Lihat-Lihat: hanya melihat-lihat produk tanpa ada transaksi.

  • ROCEGA – Rombongan Cek Harga: hanya membandingkan harga barang tanpa membeli.

  • ROMANSA – Rombongan Manis Senyum Aja: datang ke mal hanya untuk hangout sambil tersenyum-senyum.

  • ROTASI – Rombongan Tanpa Transaksi: tidak melakukan pembelian sama sekali.

  • ROSALI – Rombongan Suka Selfie: mengunjungi mal untuk foto-foto demi konten media sosial.

  • ROCADOH – Rombongan Cari Jodoh: datang ke mal untuk bersosialisasi dan mungkin mencari pasangan.

  • ROCUTA – Rombongan Cuci Mata: datang hanya untuk melihat-lihat barang atau orang.

    ROMUSA – Rombongan Muka Susah: menggambarkan ekspresi para pengunjung yang mungkin hanya sekadar menghabiskan waktu, tanpa daya beli.

Apa Penyebab Fenomena ROJALI dan Sepinya Transaksi di Mal?

Pengunjung mal melihat produk fesyen di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, Senin (28/7/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, kunjungan masyarakat ke mal sebenarnya tetap tinggi. Namun, yang berubah adalah pola konsumsi dan daya beli masyarakat.

Ia mengungkapkan bahwa kelompok menengah ke bawah kini cenderung hanya membeli produk dengan harga kecil atau datang ke mal tanpa berbelanja sama sekali.

“Tren belanja masyarakat berubah. Mereka datang ke mal, tapi daya beli belum sepenuhnya pulih. Banyak yang hanya lihat-lihat atau beli produk yang lebih terjangkau,” ujar Alphonzus kepada CNBC Indonesia.

Hal ini mencerminkan adanya tekanan ekonomi, terutama dari sisi konsumsi rumah tangga yang masih belum stabil pasca pandemi.

Konsumsi Menengah Atas Belum Pulih, Apa Dampaknya?

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA), David Sumual, menyoroti bahwa konsumsi dari kalangan menengah atas, yang selama ini menyumbang sekitar 70% terhadap total konsumsi nasional, masih belum menunjukkan pemulihan signifikan hingga pertengahan tahun 2025.

Menurut David, data Big Data menunjukkan bahwa pembelian barang-barang tahan lama (durable goods) seperti mobil, motor, furnitur, hingga pakaian bermerek (luxury goods) masih lesu. Padahal, segmen inilah yang biasanya menjadi motor penggerak konsumsi domestik.

“Konsumen kelas atas yang punya uang belum sepenuhnya kembali belanja. Mereka biasanya yang dorong konsumsi besar. Tanpa mereka, sektor ritel sulit bertumbuh,” katanya dalam acara Editors Briefing Bank Indonesia.

Apa Dampaknya bagi Bisnis Ritel dan Pusat Perbelanjaan?

Pengunjung mal melihat produk fesyen di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, Senin (28/7/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Fenomena ROJALI dan berbagai istilah turunannya sebenarnya merupakan cerminan realitas sosial dan ekonomi masyarakat saat ini. Bagi pelaku bisnis ritel, ini menjadi tantangan besar.

Meskipun pusat perbelanjaan tidak pernah sepi pengunjung, tingkat transaksi yang rendah menyebabkan penurunan pendapatan dan efisiensi operasional.

Akibatnya, banyak ritel yang harus menyesuaikan strategi bisnis mereka, seperti:

  • Menawarkan produk dengan harga lebih terjangkau.

  • Menyelenggarakan diskon besar-besaran untuk mendorong pembelian.

  • Mengoptimalkan promosi digital untuk menjangkau konsumen langsung.

  • Menyediakan ruang publik dan pengalaman non-transaksional seperti event, spot foto, atau food court yang kekinian.

Fenomena seperti ROJALI, ROHANA, dan ROMUSA bukan sekadar candaan netizen. Di balik istilah yang lucu itu, terdapat pesan penting tentang kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

Pusat perbelanjaan kini lebih dari sekadar tempat jual-beli—ia telah menjadi ruang sosial, tempat rekreasi, hingga destinasi konten bagi masyarakat urban. Namun, bagi sektor ritel, penting untuk tidak hanya fokus pada jumlah pengunjung, tetapi juga mendorong konversi kunjungan menjadi transaksi nyata.

Dengan memahami pola perilaku konsumen dan beradaptasi terhadapnya, para pelaku usaha dapat tetap bertahan dan bahkan berkembang di tengah tantangan ekonomi yang masih terus berlangsung.

(seo)

No more pages