Yinson Holdings Berhad, perusahaan global dalam bidang infrastruktur energi yang berbasis di Malaysia, turut menunjukkan bagaimana transformasi digital dapat memperkuat strategi pertumbuhan global yang berkelanjutan. Terutama dalam pengelolaan sumber daya manusia (SDM).
Beroperasi di banyak negara dengan proses personalia yang berbeda-beda di tiap entitas, Yinson menyadari perlunya konsolidasi dan efisiensi. Sejak 2020, Yinson meluncurkan SAP Employee Central secara global dalam waktu 6 bulan saja.
Sepanjang 2022–2023, Yinson menambahkan berbagai modul seperti performa, rekrutmen, onboarding, dan kompensasi. Kini, dengan integrasi AI generatif, efisiensi semakin ditingkatkan.
Yinson mulai mengotomatisasi aktivitas rutin seperti menyusun ulasan kinerja, mendesain deskripsi pekerjaan, hingga merancang pertanyaan wawancara berbasis jabatan.
Langkah ini tidak hanya meningkatkan akurasi dan konsistensi proses personalia, tetapi juga memungkinkan fokus lebih besar pada analitik SDM, pengalaman kandidat, serta umpan balik karyawan yang lebih profesional.
“Tujuan kami adalah menjadi employer of choice yang siap menghadapi masa depan. Bersama SAP, kami berhasil merancang ulang fungsi HR kami—mengintegrasikan AI agar lebih efisien dan efektif. Tim kami kini bisa berfokus pada inisiatif strategis yang benar-benar memberi nilai tambah dan memperkuat pertumbuhan global kami.” kata Louisa Brady, Chief Human Resources Officer, Yinson Group.
Juanta Widjaja, Head of ICT di PT Sampoerna Agro Tbk (SRGO). juga menyebut bagaimana transformasi teknologi memainkan peran penting dalam operasional perseroan.
“Sebelum kami menggunakan AWS, kami sudah melakukan serangkaian uji coba. Kami tidak ingin ingin ada gangguan. Harus bisa memastikan operasional tidak bermasalah,” tegasnya.
Sementara Shivram Ramakrisnan, Chief Data and Information Officer Olam Agri, menilai transformasi teknologi adalah sesuatu yang vital. Apalagi setelah Olam Agri diakuisisi oleh Saudi Agricultural and Livestock Investment Company (SALIC).
SALIC membeli 44,58% saham Olam Agri senilai US$ 1,78 miliar. Olam Group juga disyaratkan menjual 19,99% saham mereka di Olam Agri kepada SALIC dalam 3 tahun mendatang. Transaksi ini masih menunggu persetujuan regulator dan pemegang saham.
Ramakrisnan menyebut ada beberapa hal yang membuat transformasi teknologi menjadi sangat penting. Pertama adalah memang ada kebutuhan seiring pasar yang makin luas, proses bisnis yang makin kompleks, dan potensi peningkatan permintaan.
“Kedua, setelah merger kami punya ambisi pertumbuhan yang ambisius. Ketiga, kami ingin beralih menjadi perusahaan dengan 90% cloud,” ungkap Ramakrisnan.
Keempat, ujar Ramakrisnan, adalah sifat dari perusahaan agribisnis yang memiliki marjin kecil. Agar perusahaan tetap bisa untung, tetap bisa terus beroperasi dengan menghasilkan laba, maka korporasi harus dikelola dengan efisien.
“Kami harus mampu mengurangi kerugian yang bisa dikendalikan,” ucap Ramakrisnan.
(aji/tim)































