Di samping itu, harga CPO juga sedang dihinggapi beberapa sentimen kurang positif. Harga minyak nabati lainnya– yaitu harga minyak kedelai di papan perdagangan Chicago Board of Trade (Amerika Serikat/AS) melemah 0,5%.
Saat harga minyak nabati pesaing lebih murah, maka keuntungan untuk menggunakan CPO menjadi berkurang. Sebab, berbagai komoditas ini bisa saling menggantikan.
Selanjutnya dari nilai tukar ringgit. Kemarin, mata uang Negeri Harimau Malaya menguat 0,27% terhadap dolar AS.
CPO adalah aset yang dibanderol dalam ringgit. Ketika ringgit terapresiasi, CPO jadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lainnya.
Analisis Teknikal Harga CPO
Jadi bagaimana prediksi harga CPO untuk kedepannya? Apakah bisa bangkit atau justru kian terhimpit?
Secara teknikal dengan perspektif harian (time frame daily), CPO masih bertengger di zona bullish. Tercermin dari Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 58. RSI di atas 50 mengindikasikan suatu aset sedang dalam posisi bullish.
Sementara indikator Stochastic RSI ada di 50. Masih menghuni area beli (long) biarpun mulai terpangkas.
Namun dengan kenaikan harga yang sudah lumayan tinggi, harga CPO rasanya masih akan dihantui risiko pelemahan lebih lanjut. Target support terdekat adalah MYR 4.200/ton. Jika tertembus, maka MYR 4.100/ton bisa terjemput menjadi target pelemahan berikutnya.
Adapun target resistance terdekat adalah MYR 4.370/ton yang menjadi pivot point. Penembusan di titik ini berpotensi mengangkat harga CPO ke rentang MYR 4.408 sampai dengan potensialnya mencapai MYR 4.550/ton.
(fad)




























