Logo Bloomberg Technoz

Menurut badan audit negara itu, MIND ID menanggung beban bunga mencapai Rp1,02 triliun sepanjang periode tersebut, lantaran pendapatan dividen INCO tidak optimal selepas akuisisi 20% pada 2020 lalu.

INCO absen membagi dividen dua kali selepas akuisisi MIND ID pada tahun buku 2021 dan 2023. Adapun, pada tahun buku 2020 dan 2022 INCO membagi dividen secara keseluruhan mencapai Rp272,05 miliar, terpaut lebar dari posisi beban bunga utang setiap tahunya.

“Hal ini menunjukkan adanya indikasi potensi pendapatan yang diperoleh dari dividen INCO tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan MIND ID untuk melakukan pengambilalihan saham INCO,” tulis BPK dalam hasil auditnya dikutip Senin (21/7/2025).

Perbandingan pendapatan Dividen INCO dengan pembayaran bunga global bond dalam rupiah tahun 2020 sampai Juni 2023. (Laporan MIND ID & Olah Data BPK).

Sementara itu, MIND ID mengeluarkan investasi masing-masing sebesar Rp3,4 triliun dan Rp1,46 triliun pada 2024 lalu untuk menambah kepemilikan di INCO sebanyak 14%, menjadi 34%.

Perinciannya, transaksi senilai Rp3,4 triliun dilakukan untuk mengakuisisi masing-masing saham yang dilepas Vale Canada Limited (VCL) sebesar 7,85%, Sumitomo Metal Mining Co Ltd (SMM) 11,5%, dan Vale Japan Limited sebesar 0,54%.

Selepas itu, MIND ID menyerap saham baru yang diterbitkan INCO sebanyak 603.445.814 lembar lewat skema right issue dengan nilai nominal Rp25 per saham atau sebesar 6,07% dari modal dan disetor penuh INCO. Transaksi yang disebut terakhir itu menghabiskan dana sekitar Rp1,46 triliun.

Sumber Bloomberg Technoz yang mengetahui permasalahan ini menyebutkan posisi beban bunga utang yang relatif lebar itu turut menjadi perhatian manajemen MIND ID dan INCO saat ini.

Kendati demikian, dia mengatakan, kepentingan MIND ID untuk menarik dividen pada tahun buku berikutnya tidak bakal memberatkan INCO.

Dia beralasan, INCO membukukan kas yang relatif besar untuk bisa menarik pinjaman lain terkait dengan pembiayaan pengembangan proyek saat ini. Belakangan, INCO disebutkan tengah mengincar pinjaman bank sebesar US$1,2 miliar untuk pengembangan blok tambang.

Bloomberg Technoz telah meminta konfirmasi terkait dengan posisi beban bunga utang akuisisi INCO itu kepada Wakil Direktur Utama MIND ID Dany Amrul Ichdan lewat pesan tertulis. Sampai berita ini tayang, Dany enggan memberi konfirmasi.

Selain itu, permohonan konfirmasi juga dikirim ke Chief Operating Officer Danantara Indonesia Dony Oskaria dan Managing Director Holding Operasional Danantara Febriany Eddy — Febriany sebelumnya menjabat CEO INCO periode 2019 sampai dengan April 2025.

Hanya saja, permohonan konfirmasi itu tidak ditanggapi sampai berita ini tayang. Plt Presiden Direktur INCO Bernardus Irmanto mengatakan dirinya tidak bisa berkomentar ihwal temuan badan audit itu.

Posisi utang obligasi MIND ID. (Laporan Keuangan MIND ID 2024).

Melansir laporan keuangan MIND ID Tahun Buku 2024, holding tambang pelat merah itu mencatatkan utang obligasi sebesar Rp54,46 triliun, relatif susut dari posisi utang tahun sebelumnya di angka Rp52,59 triliun.

Hanya saja, utang obligasi jatuh tempo MIND ID melonjak 1.985,66% ke level Rp16,14 triliun, dari posisi utang tahun 2023 di angka Rp774 miliar. Di sisi lain, utang obligasi jangka panjang berada di level Rp38,31 triliun, susut 26,06% dari posisi tahun sebelumnya sebesar Rp51,82 triliun.

Tekanan Bunga Utang Akuisisi

Sejumlah analis menilai beban bunga utang itu bakal menimbulkan risiko pada arus kas holding tambang pelat merah tersebut dalam jangka menengah. Di sisi lain, ruang pendanaan INCO untuk ekspansi proyek relatif bisa terhambat.

Global bonds berbunga tetap cukup tinggi memang menciptakan tekanan, apalagi dividen dari INCO tidak rutin dan tidak mencukupi menutup beban bunga tahunan,” kata Market Analyst BRI Danareksa Sekuritas Chory Ramdhani saat dihubungi.

Apalagi, kata Chory, situasi itu belakangan diperparah oleh tren penurunan harga nikel di pasar yang belakangan ikut menekan laba INCO secara tahunan.

Kondisi itu terlihat dari laba yang dibukukan INCO susut 78,94% pada tahun 2024 di angka US$57,76 juta atau sekitar Rp935,71 miliar, dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$274,33 juta.

Kendati demikian, INCO tetap membagikan dividen dengan rasio 60% tahun ini di tengah koreksi laba bersih tersebut. Dengan demikian, total dividen tunai yang dibagikan ke pemegang saham mencapai US$34,65 juta.

“Tekanan untuk tetap membayar dividen bisa menghambat ruang manuver ekspansi INCO,” kata Chory.

Sementara itu, Director PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk (RELI) Reza Priyambada mengatakan beban bunga utang itu menjadi tantangan bagi MIND ID untuk meningkatkan kinerja operasional perusahaan.

“Justru ini menjadi tantangan bagi MIND ID untuk dapat lebih meningkatkan kinerja agar bisa mengcover utang tersebut,” kata Reza.

Truk berjalan di sepanjang lintasan tambang nikel yang dioperasikan oleh PT Vale Indonesia di Sorowako, Sulawesi Selatan./Bloomberg-Dimas Ardian

Belakangan, INCO mencatatkan komitmen investasi mencapai sekitar US$8,2 miliar untuk pengembangan blok tambang dan smelter selepas perpanjangan kontrak tahun lalu.

INCO menggandeng GEM untuk mengembangkan IGP Morowali yang akan dilengkapi dengan smelter high pressure acid leach (HPAL) berkapasitas 60.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun. Proyek ini diperkirakan menelan investasi mencapai sekitar US$2 miliar.

Selanjutnya, INCO bermitra dengan Zhejiang Huayou Cobalt Co dan Ford Motor Company menggarap proyek IGP Pomala dengan nilai investasi mencapai US$4,5 miliar. Proyek ini diharapkan rampung pada 2026 dengan fasilitas HPAL berkapasitas 120.000 ton MHP setiap tahunnya.

Adapun, INCO turut menggarap proyek IGP Sorowako Limonite bersama dengan Huayou dengan nilai investasi mencapai US$1,7 miliar. Proyek ini diharapkan dapat menghasilkan 66.000 ton MHP per tahun.

(naw)

No more pages