Di samping itu, akibat ketidakpastian soal kebijakan tarif AS, banyak produsen peralatan asli (OEM) kini berada dalam mode ‘wait & see’, serta mereka menyesuaikan lokasi manufaktur dengan memiliki kekhawatiran bahwa tarif tersebut terus membayanginya. Pembatasan dan realokasi rantai pasokan ini diprediksi bakal berkendala bagi pengiriman PC pada 2025.
Sementara itu, pertumbuhan pada kuartal II-2025 didorong oleh segmen komersial, sejalan dengan perusahaan-perusahaan besar dan lembaga publik yang mempercepat peningkatan perangkat jelang batas waktu dukungan Windows 10 pada akhir tahun ini.
Adapun segmen konsumen memperlihatkan sinyal yang beragam, dengan pertumbuhan moderat pada laptop kelas menengah yang sebagian diimbangi oleh permintaan yang lebih lemah dari perkiraan untuk model ultra tipis premium di pasar-pasar yang telah mapan.
Merespons terkait masa depan pengiriman PC global, Analis Senior dari Counterpoint Research, Minsoo Kang mengatakan bahwa akibat ketidakpastian soal tarif AS, pengiriman PC kemungkinan akan melemah secara tahunan mulai semester kedua 2025. Akan tetapi, permintaan untuk PC AI diperkirakan bakal menjadi pendorong yang signifikan pada tahun 2026.
“Kami memperkirakan lebih dari separuh laptop yang dikirimkan pada tahun 2026 dan seterusnya adalah Laptop AI,” ujar Minsoo.
Sebagai informasi, sektor manufaktur PC global saat ini masih terkonsentrasi di China, yang terus menimbulkan tantangan signifikan bagi industri ini, terutama dalam mengelola risiko mengenai tariff AS. Meskipun perkembangan terbaru dalam kebijakan perdagangan Negeri Paman Sam tersebut seperti penghapusan sementara tarif laptop telah memberikan sedikit kelonggaran, namun ketidakpastian tetap ada.
Kemungkinan munculnya bea masuk baru untuk komponen semikonduktor dan produk teknologi lainnya, sebagaimana diumumkan oleh Pemerintah AS, diprediksi bakal berlaku dalam beberapa bulan mendatang, sehingga meningkatkan kekhawatiran adanya lebih lanjut bagi industri ini.
Direktur Asosiasi Counterpoint Reseach, David Naranjo menyebut bahwa pasar AS tetap menjadi pasar terpenting bagi PC AI untuk memperlihatkan kemampuannya dan pasar terbaik guna menjual PC canggih berteknologi AI. Kebijakan tarif yang bergejolak kemungkinan akan menyebabkan konsumen dan perusahaan menunda pembelian PC AI mereka pada tahun ini, yang pada gilirannya bakal menekan pertumbuhan segmen ini.
“Ketidakpastian ekonomi global yang masih ada juga menimbulkan risiko penurunan terhadap proyeksi pengiriman PC kami untuk tahun 2025, yaitu pertumbuhan persentase tahunan di bawah satu digit,” tutur David.
(wep)
































