Logo Bloomberg Technoz

Terkait dengan itu, Duta Besar AS untuk NATO Matt Whitaker mengamini rencana tarif 100% itu secara efektif merupakan sanksi sekunder terhadap negara-negara yang membeli minyak dari Rusia.

"Ini tentang tarif terhadap negara-negara seperti India dan China yang membeli minyak mereka. Dan saya pikir, ini akan berdampak dramatis terhadap perekonomian Rusia,” ujarnya kepada wartawan. 

Pendapatan minyak Rusia lanjutkan tren pelemahan. (Bloomberg)

Ancaman tersebut selaras hukuman yang dijabarkan dalam RUU bipartisan di Kongres AS yang akan mengenakan tarif 500% kepada negara-negara yang membeli minyak dan gas Rusia.

Trump sebelumnya juga berjanji untuk mengenakan tarif impor dari negara-negara yang membeli minyak Venezuela.

Bagaimanapun, Trump tidak memerinci kewenangan yang akan digunakannya untuk mengenakan tarif sekunder tersebut.

Rencana Indonesia

Indonesia sendiri belakangan ini termasuk ke dalam negara yang mempertimbangkan impor minyak dari Rusia, sebagai upaya diversifikasi sumber pasokan untuk memperkuat cadangan di dalam negeri.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada akhir Juni mensinyalir Indonesia makin serius untuk mengeksekusi rencana impor minyak mentah dan gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG) dari Moskwa.

Hal tersebut disampaikan usai kunjungan delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto untuk menemui Presiden Rusia Vladimir Putin di St. Petersburg pada 18—20 Juni 2025.

“Kami juga berbicara tentang kita bisa melakukan impor crude [minyak mentah] dari Rusia dan juga lagi menjajaki untuk gas,” kata Bahlil dalam wawancara dengan Liputan6 TV, Senin (23/6/2025), malam.

Bahlil menyebut hingga saat ini RI mengimpor sekitar 80% LPG per tahun untuk kebutuhan domestik sekira 8 juta ton per tahun. Sementara itu, produksi LPG hanya sekitar 1,3 juta ton per tahun.

“Jadi impor kita itu masih kurang lebih sekitar 7 juta ton per tahun. Nah, ini bisa salah satu alternatifnya dari sana [Rusia],” ungkap Bahlil.

Dia menggarisbawahi harga yang ditawarkan Rusia harus lebih murah atau kompetitif dibandingkan dengan negara lain.

Bahlil juga menuturkan dia bersama Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto dan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri telah berkomunikasi dengan sejumlah BUMN migas Rusia.

Selain membahas impor minyak mentah dan LPG, Bahlil mengatakan RI akan kerja sama dengan RI-Rusia terkait dengan pengembangan sumur minyak tua karena Rusia memiliki teknologi yang lebih maju.

Pengapalanminyak Rusia ke Asia./dok. Bloomberg

Sebelumnya, Putin mengatakan Rusia bersedia untuk menambah pasokan minyak dan gas ke pasar Indonesia.

"Kami bersedia menambah pasokan minyak dan gas alam cair ke pasar Indonesia," ujar Putin, Kamis (19/6/2025) malam, saat pertemuan bersama Prabowo di Istana Konstantinovsky.

Dalam kesempatan tersebut, Putin tidak mengelaborasi seperti apa rencana memasok minyak dan gas ke Indonesia. Selain itu, Rusia dan Indonesia juga tidak menandatangani kesepakatan ihwal sektor energi dalam kunjungan Prabowo tersebut.

Di sisi lain, Pertamina pada Mei pernah mengonfirmasi Indonesia sudah mulai mempersiapkan eksekusi rencana impor minyak mentah dari Rusia, setelah lama menjadi wacana pemerintah.

Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Taufik Aditiyawarman mengatakan kebijakan impor minyak mentah dari Rusia “masih dibuka” pemerintah, dan akan dilakukan sesuai dengan prosedur dan persyaratan yang berlaku.

PT KPI sudah terlebih dahulu mendata kebutuhan minyak mentah untuk kilang-kilang perseroan dan pengadaannya dilakukan melalui lelang terbuka, termasuk untuk minyak mentah dari Rusia.

Taufik mengungkapkan proses tender pengadaan minyak mentah untuk KPI pun telah dibuka sejak Mei tahun lalu, dan beberapa minyak asal Rusia telah masuk. Meski demikian, dia tidak mendetailkan volumenya.

“Termasuk crude Rusia. Ada beberapa crude Rusia yang masuk. Kita juga akan sesuai dengan peraturan OPEC-nya. [...] Tetap harus mengikuti aturan itu,” ujarnya saat ditemui di agenda IPA Convex di ICE BSD, Rabu (21/5/2025).

Sekadar catatan, pendapatan minyak Rusia pada Juni merosot ke level terendah dalam 2 tahun, terdampak oleh pelemahan harga minyak global dan penguatan mata uang rubel, yang membuat setiap barel minyak menghasilkan lebih sedikit penghasilan bagi Kremlin.

Pendapatan dari sektor minyak turun hampir 30% menjadi 415,6 miliar rubel (sekitar US$5,27 miliar), menurut perhitungan Bloomberg berdasarkan data Kementerian Keuangan yang dirilis Kamis (3/7/2025). Angka ini merupakan yang terendah sejak Juni 2023.

Jika digabungkan, penerimaan Rusia dari pajak minyak dan gas turun sepertiga dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menjadi hampir 495 miliar rubel. Ini merupakan angka terendah sejak Januari 2023.

Hal ini menekan profitabilitas perusahaan energi dan membebani anggaran Rusia, yang bergantung pada pendapatan pajak sektor minyak dan gas hingga sekitar sepertiga dari total penerimaannya.

(wdh)

No more pages