Jensen Huang dan rekan-rekannya telah kehilangan miliaran dolar AS pendapatan di bawah aturan teramat ketat yang dirancang untuk menutup akses China ke kemampuan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang paling kuat. Pemerintahan berturut-turut di Washington telah menyatakan bahwa penggunaan komponen yang paling canggih tanpa batas akan menimbulkan risiko bagi keamanan nasional.
CEO Nvidia, yang berada di Washington pada pekan sebelumnya dan kemudian akan lakukan perjalanan ke Beijing. Jensen Huang, berpendapat bahwa strategi ini akan gagal karena akan memacu pertumbuhan kemampuan domestik di China. Hal ini pada akhirnya akan menyaingi kemampuan yang diciptakan oleh industri teknologi AS.
Nvidia dan rekan-rekannya mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan AS harus diizinkan untuk mengirim ke pasar terbesar di dunia untuk semikonduktor agar produk mereka tetap menjadi pusat pengembangan AI.
Jensen Huang bertemu Presiden Donald Trump pekan lalu untuk menyampaikan kembali kasusnya dan memuji dorongan pemerintah meningkatkan produksi semikonduktor dalam negeri. Nvidia cs bergantung pada fasilitas manufaktur Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC), yang sebagian besar terletak di negara pulau dengan letak geografis tidak jauh dari daratan China.
Donald Trump memuji keberhasilan Nvidia dan pertumbuhannya untuk menjadi perusahaan AS pertama yang mencapai kapitalisasi pasar sebesar US$4 triliun.
Rincian pertemuan di Gedung Putih antara keduanya tidak dipublikasikan, tetapi sejauh ini pemerintah dan politisi di kedua belah pihak tetap bersikukuh untuk tidak mengizinkan lebih banyak akses bagi perusahaan-perusahaan China.
(bbn)





























