Logo Bloomberg Technoz

Eniya tidak menampik mencapai target awal bauran EBT sebesar 23% akan sulit direalisasikan pada tahun ini. Terlebih, pada 2024 saja, capaian EBT dalam bauran energi nasional hanya 14,68% dari seharusnya 19,5%.

"Dalam satu tahun ini kita akan berusaha untuk paling tidak mencapai target sesuai KEN [yaitu bauran EBT sebesar] 20%, sedangkan target di versi rendahnya KEN itu 17% pada 2025," ucap Eniya dalam sebuah kesempaatan rapat dengan Komisi XII DPR RI, medio Februari.

Alih-alih, target EBT sebesar 23% dalam bauran energi primer diproyeksikan baru bisa tercapai pada 2030. Sementara itu, hingga 2045 atau saat periode Indonesia Emas, target bauran EBT ditargetkan sebesar 46%.

Banyak Tantangan

Eniya mengelaborasi Indonesia masih menghadapi banyak tantangan untuk menutup kesenjangan antara target dan realisasi energi bersih di Tanah Air. Misalnya, ketiadaan jaringan transmisi untuk menyalurkan listrik dari sumber EBT ke pusat permintaan.

Untuk itu, lanjutnya, target bauran EBT direvisi agar mengacu pada RPP KEN yang sudah disetujui DPR dan tinggal menunggu lampu hijau dari Sekretariat Kabinet.

Penurunan target bauran EBT nasional tersebut pernah disampaikan oleh Dewan Energi Nasional (DEN) pada Januari 2024.

Sekjen DEN saat itu Djoko Siswanto—yang sekarang menjabat sebagai Kepala SKK Migas — mengungkapkan target bauran EBT nasional akan direvisi pasca-2025 menjadi sekitar 17% sampai 19%, setelah target sebelumnya mustahil tercapai.

Revisi tersebut nantinya bakal tertuang dalam pembaharuan RPP KEN, yang pada awalnya ditargetkan rampung pada medio 2024.

"Di dalam revisi KEN itu [skenario] optimisme [bauran EBT dalam sistem ketenagalistrikan nasional bisa mencapai] 17%, terus pesimistisnya 19% pada 2025. Kita mulainya pada 2025 karena angka 23% itu sudah mendunia, sehingga kita jangan mundur dahulu, " ujar Djoko.

DEN memandang revisi target tersebut lebih realistis, mengingat proyek-proyek pembangkit fosil dalam negeri yang terbilang masih cukup masif, meski dilakukan bersamaan dengan proyek pembangkit EBT.

Pangsa PLTU batu bara captive di Indonesia./dok. Global Energy Monitor (GEM)

Berdasarkan RPP KEN, target bauran EBT nasional nantinya juga akan terus naik secara bertahap. Pada 2030, bauran EBT ditargetkan dapat mencapai 19%—21%.

Kemudian, pada 2035 akan naik lagi menjadi sekitar 25%—26%, 2040 ditargetkan mencapai 38%—41%, hingga pada 2060 mendatang mencapai 70%—72%.

"Kalau dahulu, dalam PP KEN No. 79/2014 itu adalah kita 2050 itu 70%-nya justru fosil. Sekarang justru dibalik 70% adalah EBT. Bedanya begitu, fosil jadi 30%. Kalau dahulu 30% EBT, 70% adalah fosil,” ujar Djoko.

Target Prabowo

Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto menargetkan bauran EBT 100% bisa dicapai pada 2035. Target itu, klaimnya, bahkan lebih cepat 5 tahun dari estimasi yang diperkirakan pemerintah pada 2040.

“Kami berencana untuk mencapai 100% energi baru terbarukan dalam waktu 10 tahun mendatang, targetnya tentu 2040 tapi tim pakar saya bilang kita bisa capai itu lebih cepat,” kata Prabowo di Istana Planalto, Brasilia, Rabu (9/7/2025).

Target ambisius bauran energi bersih nasional itu disampaikan Prabowo saat bertemu dengan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva.

Dalam pertemuan bilateral itu, Prabowo berharap bisa meneken kerja sama konkret bersama dengan Lula ihwal pengembangan biofuel di Indonesia.

“Sekali lagi, kami melihat keberhasilan Brasil dalam mengembangkan biofuel. Dan saya pikir kami bertekad untuk mengejar kemajuan yang telah Brasil capai,” kata Prabowo.

(wdh)

No more pages