Logo Bloomberg Technoz

TikTok saat ini digunakan oleh lebih dari 170 juta warga Amerika, termasuk pelaku usaha kecil, pembuat konten, dan brand besar. Dengan basis pengguna sebesar itu, banyak pihak memprediksi TikTok akan tetap relevan meski di bawah struktur operasional baru.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump bulan lalu memberikan perpanjangan waktu selama 90 hari kepada ByteDance hingga 17 September untuk melepas kepemilikan operasinya di AS. Tenggat awal sebenarnya adalah 19 Januari, setelah undang-undang ditandatangani oleh pendahulu Trump, Presiden Biden, tahun lalu, namun batas waktu tersebut telah diperpanjang beberapa kali oleh Trump.

TikTok menyatakan bahwa undang-undang tersebut "tidak memberikan dasar" atas anggapan bahwa kepemilikan China atas perusahaan itu menimbulkan risiko keamanan nasional.

Beberapa pihak yang disebut tertarik membeli operasi TikTok di AS antara lain Oracle, Amazon, dan konsorsium investor yang dipimpin mantan pemilik klub Dodgers, Frank McCourt, serta tokoh bisnis Kevin O’Leary. Namun, setiap kesepakatan masih membutuhkan restu dari pemerintah China. Para analis menilai kecil kemungkinan ByteDance akan melepas algoritma pencarian konten TikTok, yang merupakan aset intinya.

Situasi Pelik TikTok Amerika Bulan Ini Bakal Terjadi

Perusahaan AI asal San Francisco, Perplexity, bahkan mengusulkan rencana ambisius untuk "membangun ulang algoritma TikTok" jika berhasil membeli operasinya. Meski begitu, hingga kini belum ada kesepakatan final.

Pemerintahan pertama Trump sempat mendorong pelarangan TikTok, namun kini sang presiden telah berubah sikap. Ia telah bertemu dengan eksekutif TikTok di Mar-a-Lago, menyampaikan komentar tentang popularitas TikTok di kalangan anak muda, dan membanggakan jumlah pengikutnya yang besar di platform tersebut.

Dalam kampanyenya untuk masa jabatan kedua, Trump memposisikan dirinya sebagai pendukung TikTok dengan mengatakan, "Siapa pun yang ingin menyelamatkan TikTok di Amerika, pilih Trump."

Beberapa kreator TikTok mengatakan kepada The New York Times, bahwa mereka telah memperluas jangkauan ke platform lain sebagai langkah antisipasi, namun tetap berharap aplikasi tersebut tidak benar-benar diblokir.

Infografis Mengapa AS Ingin Larang Penggunaan TikTok di Negaranya? (Arie Pratama/Bloomberg Technoz)

(wep)

No more pages