Indonesia, yang belum mencapai kesepakatan dengan AS, mengaku optimistis bisa meraih deal melalui pengajuan tarif mendekati nol terhadap lebih dari 1.700 komoditas atau hampir 70% dari total impor AS.
Komoditas ini mencakup sektor-sektor utama yang diminta oleh AS, seperti elektronik, mesin, bahan kimia, layanan kesehatan, baja, pertanian, dan otomotif.
Kesepakatan besar ini dapat menjadi sinyal positif ketika Indonesia sedang berupaya untuk menurunkan ancaman tarif 32% ke level yang lebih rendah dari tarif 20% yang disepakati Vietnam awal pekan ini.
AS sendiri merupakan pasar ekspor terbesar kedua bagi Indonesia setelah China.
Saham-saham Pemberat IHSG
Di sepanjang perdagangan saham hingga penutupan, saham-saham infrastruktur, saham konsumen primer, dan saham transportasi menjadi pendorong pelemahan IHSG dengan amblas 1,34%, 0,81%, dan 0,63%, disusul oleh melemahnya saham barang baku yang drop 0,26%.
Sejumlah saham infrastruktur yang menjadi pemberat IHSG ialah, saham PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI) jatuh 5,01%; saham PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) melemah 4,22%; dan saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) turun 2,95%.
Senada, saham konsumen primer juga terpeleset dan jadi pemberat, saham PT Jaya Agra Wattie Tbk (JAWA) drop 4,83%; saham PT Lovina Beach Brewery Tbk (STRK) melemah 4,82%; lalu saham PT Sekar Bumi Tbk (SKBM) tertekan 4,55%.
Saham-saham LQ45 yang ada di teritori negatif juga menjadi pemberat IHSG antara lain, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) terpeleset 3,85% dan saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dengan pelemahan 3,78%.
Tren bearish juga terjadi pada saham LQ45 berikut, saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) melemah 3,13%; PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) turun 2,88%; dan juga saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) merah 2,81%.
Mode Wait and See
Namun demikian, Menko Perekonomian RI Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah masih dalam mode "Wait and See" (menunggu dan melihat) untuk keputusan final dari Washington sebelum tarif yang lebih tinggi diberlakukan pada 9 Juli mendatang.
Sementara Presiden AS Donald Trump dalam pernyataan terbaru mengungkapkan, pemerintahannya akan menyurati negara-negara mitra dagang pada Jumat ini untuk menetapkan tarif impor secara sepihak.
Negara-negara tersebut, kata Trump, wajib membayar tarif per 1 Agustus. Trump mengatakan kepada jurnalis bahwa ada "10 atau 12" surat akan dikirim pada Jumat dan sisanya akan menyusul dalam beberapa hari ke depan.
"Saya kira pada 9 [Juli] nanti semuanya sudah tercakup," paparnya, merujuk pada tenggat 9 Juli yang sebelumnya ia tetapkan terhadap negara-negara untuk mencapai kesepakatan dengan AS guna menghindari tarif yang lebih tinggi.
"Rentang nilainya mungkin dari 60 atau 70% tarif hingga 10 dan 20%," imbuhnya.
(fad/ros)






























