Logo Bloomberg Technoz

Keputusan ini muncul di saat Ukraina kesulitan menahan serangan besar-besaran Rusia yang menggunakan rudal dan drone di berbagai wilayah. Pada Minggu (29/6/2025), Ukraina melaporkan bahwa Rusia menembakkan rekor 537 rudal dan drone dalam serangan malam yang disebut “besar-besaran.” Rusia terus meningkatkan intensitas serangannya dalam beberapa pekan terakhir, sementara Presiden Vladimir Putin menolak seruan AS dan Eropa untuk menyetujui gencatan senjata sebagai jalan menuju perundingan damai.

Di antara persenjataan yang pengirimannya dihentikan termasuk peluru artileri kaliber 155mm, rudal Stinger yang diluncurkan dari bahu, sistem Patriot, serta rudal Hellfire, menurut laporan Nick Schiffrin dari PBS Newshour.

Pemerintahan Biden sebelumnya mengandalkan dua cara untuk mengirim senjata ke Kyiv: melalui penarikan langsung persenjataan dari gudang AS untuk kebutuhan mendesak, dan melalui pendanaan untuk pembelian senjata baru.

Meski AS masih memiliki dana miliaran dolar yang sudah disetujui Kongres sejak era Biden untuk memasok senjata ke Ukraina, proses produksi dan pengirimannya diperkirakan memakan waktu bertahun-tahun. Presiden Trump sendiri sebelumnya memberi sinyal akan mengurangi dukungan dan belum mengajukan permintaan anggaran tambahan kepada Kongres.

Departemen Pertahanan belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait langkah ini. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri mengarahkan pertanyaan ke Pentagon yang memang bertanggung jawab atas pengiriman senjata.

(bbn)

No more pages