Analisis ini muncul setelah perintah eksekutif Trump pada 20 Januari yang menangguhkan sebagian besar program bantuan luar negeri. Pembubaran USAID menjadi salah satu langkah besar pertama pemerintahannya setelah Trump menunjuk Elon Musk untuk memimpin upaya besar-besaran mengurangi pengeluaran pemerintah. Hampir seluruh 10.000 staf USAID telah dipaksa mundur.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio membela kebijakan pemangkasan tersebut sebagai langkah yang diperlukan untuk memperbaiki kegagalan masa lalu dan menyingkirkan ideologi progresif.
Pada 2023, AS menyumbang 43% dari seluruh pendanaan kemanusiaan pemerintah di dunia, naik dari 39% satu dekade sebelumnya. USAID mengelola lebih dari US$35 miliar bantuan luar negeri pada tahun fiskal 2024, sementara anggaran operasionalnya — termasuk gaji dan biaya overhead — sekitar US$2 miliar.
Studi itu menemukan bahwa negara-negara penerima dukungan USAID dengan tingkat bantuan lebih tinggi mengalami penurunan angka kematian keseluruhan sebesar 15% dan penurunan kematian anak hingga 32%. Perbaikan spesifik penyakit mencakup penurunan angka kematian HIV/AIDS sebesar 65%, malaria 51%, dan penyakit tropis terabaikan 50%.
Meskipun paling dikenal lewat inisiatif kesehatan, USAID juga mendanai program pendidikan, air bersih dan sanitasi, gizi, serta pengentasan kemiskinan. Studi tersebut mencatat bahwa investasi ini berdampak jangka panjang pada kesehatan. Sebagai contoh, perbaikan sanitasi saja dapat menurunkan angka kematian anak hingga 17%.
Penutupan USAID diperkirakan akan menelan biaya lebih dari US$6 miliar, termasuk ratusan juta dolar biaya hukum terkait gugatan atas PHK dan pembatalan program, menurut draf penilaian Departemen Luar Negeri AS.
(bbn)































