Logo Bloomberg Technoz

Meski belum ada keputusan final, BEI memastikan bahwa evaluasi terus dilakukan secara bertahap, dan saat ini fokus berada pada pembukaan kode domisili yang dinilai lebih mendesak dibandingkan dengan isu jam perdagangan.

BEI juga tengah menyelesaikan peningkatan sistem perdagangan yang akan menggunakan teknologi terbaru dari Nasdaq dengan kapasitas tiga kali lipat lebih besar dari sistem sebelumnya. Sistem baru ini tetap berbasis Nasdaq namun telah ditingkatkan ke versi Multi Matching Engine (MME).

Langkah ini disebut penting untuk menjaga kesiapan infrastruktur menghadapi dinamika pasar, termasuk kemungkinan peningkatan aktivitas dari investor institusi domestik.

Selain sistem dan jam perdagangan, BEI juga mengonfirmasi akan meluncurkan ETF berbasis emas fisik pada kuartal IV tahun ini. ETF tersebut akan didukung oleh manajer investasi dan Pegadaian sebagai pihak penyimpan emas, dengan acuan harga lokal yang disiapkan oleh Bullion.

Produk ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi investor syariah dan mendukung roadmap pasar modal syariah yang baru, menggantikan roadmap sebelumnya yang berakhir pada 2024.

“ETF emas dengan underlying fisik akan menjadi langkah awal. Tentu kami terus berkoordinasi dengan POJK dan DSN-MUI untuk memastikan semuanya sesuai prinsip syariah,” ujarnya.

Jeffrey juga menyinggung pentingnya meningkatkan partisipasi investor institusi domestik di pasar saham. Saat ini, transaksi harian masih didominasi investor ritel dan asing. Institusi domestik hanya menyumbang sekitar 25% dari total transaksi.

“Kita sudah mulai diskusi dengan berbagai institusi seperti BPJSTK, Danantara, hingga asuransi agar mereka bisa lebih aktif berpartisipasi, termasuk melalui skema unit link yang menyerap ETF,” jelasnya.

Menurutnya, peningkatan partisipasi institusi akan membantu menstabilkan pasar dari dampak keluar-masuknya dana asing.

(dhf)

No more pages