Logo Bloomberg Technoz

Eskalasi konflik di Timur Tengah meningkat tajam pada Ahad kemarin menyusul serangan Amerika Serikat terhadap tiga titik fasilitas nuklir Iran yaitu di Fordow, Natanz, dan Isfahan.

Presiden AS Donald Trump menegaskan serangan itu telah melumpuhkan upaya pengayaan uranium di Iran.

“Tujuan kami adalah menghancurkan kapasitas pengayaan nuklir di Iran dan menghentikan ancaman dari negara pendukung teror nomor satu di dunia. Iran, penindas di Timur Tengah, harus mau berdamai. Jika tidak, maka serangan lanjutan akan lebih besar dan jauh lebih mudah,” demikian Trump, seperti diwartakan Bloomberg News.

Iran tidak tinggal diam. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyebut serangan AS “keterlaluan dan akan memiliki konsekuensi panjang”. 

Sementara Garda Revolusi Iran menyatakan bakal terus menjadikan Israel sebagai target serangan. Mereka juga menyebut basis militer AS di Timur Tengah sebagai sebuah kelemahan.

Konflik yang memanas ini, pasar diperkirakan akan bereaksi dengan keluar dari aset-aset berisiko termasuk aset di emerging market seperti Indonesia juga valuta non safe haven. Gelombang flight to quality akan membesar.

“Reaksi awal adalah flight to quality dengan pasar saham kemungkinan akan melemah. Pasar saham akan dibayangi risiko, tidak ada keraguan soal itu,” tegas Neill Birrell, Chief Investment Officer Premier Miton Investors, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Analisis teknikal

Secara teknikal nilai rupiah berpotensi melemah, dibayangi sejumlah sentimen yang menekan, dengan target pelemahan menuju level Rp16.400/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua akan tertahan di Rp16.440/US$.

Apabila kembali break kedua support tersebut, terlebih lagi di sepekan perdagangan ke depan, rupiah berpotensi melemah lanjutan dengan menuju level Rp16.470/US$ hingga Rp16.500/US$ sebagai support terkuat.

Jika nilai rupiah terjadi penguatan hari ini, resistance menarik dicermati ada pada level di kisaran Rp16.350/US$ dan selanjutnya Rp16.300/US$ hingga Rp16.280/US$ potensialnya.

Analisis Teknikal Nilai Rupiah Senin 23 Juni 2025 (Riset Bloomberg Technoz)

Pekan sibuk

Rupiah telah mencetak kinerja mingguan terlemah dalam sembilan pekan, dengan ditutup di level Rp16.385/US$ pada pekan lalu, akibat terbebani eskalasi konflik di Timur Tengah yang diawali oleh serangan Israel pada Iran pada 13 Juni.

Arus modal asing membesar di pasar saham dan surat utang domestik. Di pasar saham, asing membukukan net sell sebesar US$ 275,4 juta pada pekan lalu. Sedangkan di surat utang sampai data 18 Juni, asing mencatat net sell US$ 822,2 juta pekan kemarin.

Kalender ekonomi juga sibuk pada pekan ini di tengah perang yang memanas di Timur Tengah. 

Rilis data penting pekan ini akan fokus pada data pertumbuhan ekonomi AS, perdagangan barang, serta yang utama adalah data inflasi Personal and Consumption Expenditure (PCE) yang akan mempengaruhi prospek kebijakan suku bunga The Fed ke depan.

Gubernur The Fed Jerome Powell dijadwalkan memberi kesaksian di DPR dan Senat AS di tengah sorotan tajam Trump padanya yang tak jua memangkas suku bunga acuan.

Dampak harga minyak

Eskalasi yang meningkat luar biasa di Timur Tengah telah melesatkan harga minyak dunia pagi ini. 

Pada perdagangan Senin (23/6/2025), harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) dibuka melompat 5,63% di level US$78 per barel.

Sedangkan minyak mentah jenis Brent naik 4,26% menyentuh US$80 per barel, ketika perdagangan dibuka di sesi Asia, mengawali pekan ini.

Dengan demikian, harga minyak sudah naik 17% sejak serangan Israel ke Iran pada 13 Juni lalu, diperkirakan bisa menembus level ekstrem di US$130 per barel bila Iran sampai menutup Selat Hormuz, menurut perkiraan Bloomberg Economics.

Lonjakan harga minyak dunia akan jadi kabar buruk bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak. Kenaikan harga minyak akan menaikkan beban subsidi energi yang makin memberatkan kekuatan keuangan negara.

Dalam APBN 2025, asumsi harga minyak ditetapkan sebesar US$82 per barel. Alhasil, bila harga minyak sampai melompat lebih dari batas itu, dipastikan akan terjadi pembengkakan pengeluaran negara untuk subsidi energi yang dapat melebarkan defisit fiskal.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu Deni Surjantoro sebelumnya mengatakan kondisi itu bisa terjadi bila perang antara Iran dan Israel terjadi berlarut-larut dan menyebabkan lonjakan harga minyak dunia secara signifikan.

"Dampak terhadap perekonomian Indonesia sebagai negara dengan sistem ekonomi terbuka, akan sangat bergantung pada seberapa panjang dan luas eskalasi konflik ini berlangsung," ujar Deni kepada Bloomberg Technoz, dikutip Senin (16/6/2025).

"Pemerintah, melalui Kemenkeu, terus memantau berbagai perkembangan situasi geopolitik global, termasuk ketegangan antara Iran dan Israel," ujarnya.

(rui)

No more pages