Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sebelumnya mengatakan Indonesia membuka peluang untuk melakukan impor gas industri akibat mahalnya harga gas di dalam negeri.
Meski demikian, Agus menggarisbawahi rencana tersebut tak serta-merta langsung dilakukan begitu saja, tetapi harus mempertimbangkan suplai gas nasional, termasuk memenuhi sejumlah persayaratan teknis yang regulasi yang berlaku.
"Apabila suplai gas nasional dianggap tidak mencukupi, baik kualitas dan harga tidak sesuai dengan regulasi, maka seharusnya HKI [Himpunan Kawasan Industri Indonesia] bisa diberikan fleksibilitas untuk mendapatkan gas dari sumber-sumber lain termasuk dari luar negeri,” ujarnya medio pekan ini.
Agus juga mengatakan jika rencana tersebut harus terlebih dahulu dikoordinasikan bersama kementerian dan lembaga (K/L) lain, sekaligus mengamini polemik harga gas industri masih menjadi masalah yang berlarut-larut.
Langkah tersebut, kata dia, juga dilakukan sebagai solusi dalam memenuhi kebutuhan energi sektor industri yang terus meningkat dan pasokan gas nasional terbatas.
Trader Bersiap
Pada saat Indonesia tengah mengkaji impor gas untuk industri, para pedagang atau trader gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dalam beberapa waktu terakhir sudah 'pasang mata' dan bersiap menjual lebih banyak bahan bakar superdingin tersebut ke eksportir tradisional di Asia Tenggara yang terpaksa beralih ke impor untuk memenuhi kebutuhan energi yang melonjak. Salah satunya Indonesia.
"Negara-negara termasuk Malaysia dan Indonesia memiliki rencana untuk meningkatkan kapasitas impor LNG, yang dapat menciptakan perubahan dalam dinamika pasar," kata Takuya Tanabe, kepala asal LNG Asia di JERA Global Markets, di KTT Asia Power and Gas BloombergNEF, belum lama ini.
Para traders ingin memanfaatkan pertumbuhan domestik yang kuat di dua negara berkembang tersebut, di mana cadangan gas domestik yang menipis telah memaksa pemerintah untuk memikirkan kembali strategi ekspor.
Malaysia, eksportir LNG terbesar kelima dunia tahun lalu, mengatakan mungkin memerlukan lebih banyak terminal dan fasilitas untuk impor.
Sementara itu, eksportir LNG nomor enam, Indonesia, sebelumnya telah meminta pembeli luar negeri untuk menerima penundaan karena RI ingin fokus memenuhi permintaan domestik.
Para eksportir juga menghadapi ketidaksesuaian geografis antara pasokan dan permintaan, menurut Fauziah Marzuki, kepala penelitian dan analisis gas global BNEF.
“Anda tidak dapat memperbaiki fakta bahwa Malaysia Timur mengekspor LNG, tetapi Malaysia Barat sebenarnya membutuhkan lebih banyak gas,” katanya di pertemuan puncak tersebut.
(wdh)































