Logo Bloomberg Technoz

GRR Tuban, yang menelan investasi Rp238,5 triliun, memang telah lama terkatung-katung akibat Rosneft tidak kunjung memberikan FID dengan Pertamina untuk melanjutkan proyek kilang raksasa berkapasitas olah minyak mentah 300.000 barel per hari itu.

Rosneft menjadi salah satu perusahaan migas Rusia yang terimbas sanksi dari negara-negara Barat imbas invasi terhadap Ukraina sejak awal 2022; yang menyasar pada akses pendanaan, teknologi, hingga jasa konstruksi kilang.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral juga sudah menegaskan Rusia masih berkomitmen untuk melanjutkan investasi megaproyek GRR Tuban.

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Dadan Kusdiana menuturkan komitmen itu disampaikan oleh Wakil Menteri Energi Rusia saat pertemuan Februari 2025. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung disebut ikut hadir dalam persamuhan itu.

"Waktu pertemuan Februari kita tanyakan, kita sampaikan begitu dan mereka tetap memberikan komitmen untuk cari cara khususnya pendanaan,” kata Dadan saat ditemui di sela Pertemuan Sidang Komisi Bersama ke-13 antara Indonesia dan Rusia, di Jakarta, Selasa (15/4/2025).

Di sisi lain, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) mengungkapkan taksiran nilai investasi megaproyek GRR atau Kilang Tuban belakangan makin lebar.

Direktur Utama PT KPI Taufik Adityawarman membeberkan nilai investasi proyek Kilang Tuban itu kini berada di angka US$23 miliar atau sekitar Rp377,31 triliun (asumsi kurs Rp16.405 per dolar AS), dari rencana awal senilai US$13,5 miliar.

“Proyeksi [investasinya] pasti lebih, dampak time value of money, [angkanya] US$23 miliar,” kata Taufik di sela  kegiatan IPA Convex di ICE BSD, Selasa (20/5/2025).

Mengutip laman Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP), proyek itu didesain untuk mengolah minyak mentah hingga 300.000 barel per hari (bph).

Proyek itu pada awalnya ditaksir menelan investasi mencapai sekitar US$13,5 miliar atau Rp226,93 triliun (asumsi kurs Rp16.810 per dolar AS).

Proyek yang dikerjakan PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP) itu molor dari target FID yang ditagih Kementerian ESDM  tahun lalu.

Pertamina melalui anak perusahaannya, KPI menguasai 55% saham PRPP, sedangkan 45% sisanya dikuasai oleh afiliasi Rosneft di Singapura, Rosneft Singapore Pte Ltd (dahulu Petrol Complex Pte Ltd).

(dov/wdh)

No more pages