Inggris, setelah menghadapi teknologi ini dalam pertempuran, kemudian mengadopsi dan menyempurnakannya menjadi Congreve Rocket, yang digunakan dalam Perang Napoleon.
Lompatan signifikan terjadi selama Perang Dunia II saat Nazi Jerman mengembangkan V-2, rudal balistik pertama di dunia yang menggunakan bahan bakar cair dan sistem pemandu inersia.
Diluncurkan pada 1944, V-2 menjadi senjata pertama yang mencapai batas luar angkasa dan menghantam target sejauh ratusan kilometer.
Adapun pasca Perang Dunia II, Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet bersaing dalam pengembangan rudal jarak jauh. Ini melahirkan Intercontinental Ballistic Missile (ICBM) seperti R-7 Semyorka (Uni Soviet) dan Atlas (AS), yang mampu membawa hulu ledak nuklir lintas benua.
Pada era ini juga berkembang rudal jelajah, rudal antipesawat, dan rudal anti-kapal, yang menjadi bagian integral dalam strategi pertahanan dan penyerangan militer.
Kemunculan Teknologi Rudal Hipersonik
Memasuki dekade 2000-an, perlombaan senjata memasuki babak baru dengan pengembangan rudal hipersonik. Negara seperti Rusia dengan rudal Avangard, China dengan DF-ZF, dan Amerika yang tengah mengembangkan prototipe rudal hypersonic, menandai fase persenjataan paling mutakhir saat ini.
Teknologi rudal hipersonik telah muncul sebagai kekuatan transformatif dalam peperangan modern, menawarkan kecepatan dan kemampuan manuver yang belum pernah ada sebelumnya yang menantang sistem pertahanan yang ada, dikutip dari Number Analytics.
Rudal hipersonik adalah jenis senjata yang mampu melaju lebih cepat dari Mach 5 (sekitar 6.200 km/jam), menjadikannya jauh lebih cepat dan sulit dicegat dibanding rudal balistik atau jelajah biasa.
Perkembangan rudal hipersonik dimulai sejak 1950-an, ketika penelitian awal masih bersifat teoritis dan fokus pada kemungkinan penerbangan dengan kecepatan sangat tinggi. Namun pada periode 2003-2006, Badan Proyek Penelitian Lanjutan Pertahanan Amerika Serikat (DARPA) menjalankan Proyek Falcon yang menghasilkan kendaraan uji HTV-2, mampu melesat hingga Mach 20 dalam pengujian.
Kemajuan signifikan terjadi pada 2019, saat Rusia mulai mengoperasikan sistem Avangard, wahana luncur hipersonik yang diluncurkan dari rudal balistik antarbenua (ICBM).
Pada 2021, China menguji senjata hipersonik berkemampuan nuklir yang dikabarkan dapat mengorbit bumi sebelum memasuki kembali atmosfer dan menyerang target. Kini, rudal hipersonik menjadi simbol perlombaan senjata teknologi tinggi dan menjadi sorotan utama dalam strategi pertahanan global.
Sebagai salah satu contoh rudah hipersonik lainnya yang telah memperlihatkan kemapuan mutakhirnya adalah rudal Fattah-1 milik Iran.
Mengutip dari National Security Journal, Fattah‑1 adalah rudal balistik hipersonik jarak menengah (MRBM) dengan kecepatan antara Mach 13–15 (15.000 km/jam).
Rudal hipersonik memiliki jangkauan sekitar 1.400 km. Korps Garda Revolusi Islam atau juga dikenal sebagai Garda Revolusi Iran (IRGC) memperkenalkan rudal balistik hipersonik ini pada Juni 2023.
Iran diketahui turut mengembangkan versi yang lebih canggih, yakni Fattah-2, yang disebut-sebut memiliki kemampuan manuver tinggi dan presisi yang lebih baik. Rudal ini mampu mengubah lintasan di tengah penerbangan, sebuah ciri khas dari kendaraan luncur hipersonik (HGV) dengan target mampu menembus sistem pertahanan modern dan menghantam target bernilai tinggi dengan akurasi tinggi.
Meski demikian, menurut United Nations Office for Disarmament Affairs, hingga kini belum ada perjanjian internasional yang mengikat secara khusus untuk mengatur rudal. Upaya pengendalian masih terbatas pada perjanjian bilateral (seperti AS-Rusia) dan rezim sukarela seperti MTCR dan HCOC. Panel-panel ahli PBB sudah dibentuk sejak 2001, tetapi belum menghasilkan kesepakatan global.
Teknologi rudal yang makin canggih memunculkan tantangan besar bagi keamanan internasional, terutama ketika digunakan terhadap target sipil. Di tengah minimnya regulasi dan meningkatnya risiko, desakan untuk membentuk aturan multilateral yang kuat semakin mendesak.
(prc/wep)






























