Kenaikan harga logam mulia juga didukung oleh kekhawatiran tentang defisit dan aset AS, serta pembelian konsisten oleh bank sentral yang berusaha mendiversifikasi cadangan mereka.
Penurunan permintaan investasi emas sejak kuartal keempat 2025 mungkin karena "kepercayaan pertumbuhan global mulai sedikit membaik" seiring berlakunya anggaran AS yang stimulan, serta kebijakan perdagangan dan kebijakan Trump lainnya menjadi kurang bearish.
Selain itu, "kami melihat banyak ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga kebijakan restriktif menjadi netral," imbuh analis Citi.
Dalam skenario dasar bank—yang memiliki probabilitas 60%—harga emas diperkirakan akan berkonsolidasi di atas US$3.000 per ons pada kuartal berikutnya, lalu bergerak turun.
Skenario bullish—dengan probabilitas 20%—menandai ruang untuk rekor baru pada kuartal ketiga akibat kekhawatiran tentang tarif, geopolitik, dan stagflasi. Skenario bearish—juga dengan peluang 20%—melihat aksi jual besar-besaran, sebagian disebabkan resolusi tarif yang cepat.
Harga emas spot terakhir diperdagangkan mendekati US$3.388 per ons. Harga berfluktuasi pada Selasa, setelah Trump pertama kali menyerukan evakuasi Teheran di tengah konflik antara Israel dan Iran, lalu meninggalkan KTT G7 lebih awal.
Mengenai prospek logam lainnya, Citi mengatakan sangat optimis terhadap aluminium dan tembaga. Logam ringan ini "sangat bergantung pada peningkatan pertumbuhan dan sentimen global," kata para analis.
(bbn)


























