Logo Bloomberg Technoz

Negara dengan Militer Terkuat Kala Perang Iran-Israel Memanas

Pramesti Regita Cindy
17 June 2025 06:00

Ilustrasi. Tentara Inggris di sekat helikopter Apache AH-64 saat gelar latihan di Estonia. (Peter Kollanyi/Bloomberg)
Ilustrasi. Tentara Inggris di sekat helikopter Apache AH-64 saat gelar latihan di Estonia. (Peter Kollanyi/Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Militer global terbagi antara penguasa anggaran, penggerak industri, dan sekutu strategis. Negara dengan dukungan finansial dan industri pertahanan kuat menjadi kunci keseimbangan global. Ketika konflik Iran-Israel kembali memuncak pada, Jumat (13/6/2025), kekuatan militer setiap negara menjadi sorotan utama.

Menurut analisis dari International Institute for Strategic Studies (IISS), pengeluaran militer global mencapai US$2,46 triliun pada 2024, naik dari US$2,24 triliun pada 2023, naik 7,4% dalam nilai riil.

"Pertumbuhan juga meningkat, dengan peningkatan riil sebesar 7,4%, melampaui peningkatan sebesar 6,5% pada tahun 2023 dan 3,5% pada tahun 2022. Akibatnya, pada tahun 2024, belanja pertahanan global meningkat menjadi rata-rata 1,9% dari PDB, naik dari 1,6% pada tahun 2022 dan 1,8% pada tahun 2023," tulis analisis IISS tersebut, dikutip Senin (16/6/2025). 


Kenaikan ini didorong oleh peningkatan anggaran signifikan di berbagai kawasan. Eropa dan Rusia mencatat lonjakan tertinggi, dengan total belanja mencapai US$693 miliar atau naik 17%, terutama karena dampak berkelanjutan dari perang di Ukraina. Rusia sendiri meningkatkan anggaran militernya sebesar 38% menjadi US$149 miliar, atau setara 7,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Di kawasan Asia-Pasifik dan Timur Tengah, modernisasi militer terus dipacu. China menaikkan anggaran sebesar 7%, sementara Jepang melonjak hingga 21%. Di Timur Tengah, belanja pertahanan naik 15%, dengan Israel mencatat kenaikan terbesar sebesar 65% hingga US$46,5 miliar.