Logo Bloomberg Technoz

Danantara dikabarkan akan memberikan dana jumbo sebesar US$500 juta kepada GIAA sebagai bagian upaya memperbaiki kondisi keuangan. Kesepakatan ini ditargetkan rampung pada Juli mendatang.

Kabar terbaru juga menyebut, Garuda Indonesia berharap bisa mendapat tambahan 15 armada pesawat.

Terkait permintaan pengadaan 15 unit pesawat tersebut, CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan permintaan GIAA sedang dievaluasi. 

“Itu di bagian holding sedang mengevaluasi,” kata Rosan, baru-baru ini. 

Seolah bantuan Danantara tidak cukup, penyelamatan GIAA disebut perlu campur tangan asing. Sumber Bloomberg Technoz menyebutkan GIAA akan merombak susunan pengurus dan menempatkan direktur dengan kewarganegaraan asing. 

Langkah ini diambil dengan harapan sosok tersebut dapat bekerja lebih profesional dan mendorong proses restrukturisasi Garuda berjalan lebih efektif.

Indikasi perubahan struktur manajemen ini menguat menjelang pelaksanaan RUPSLB perseroan. GIAA berencana menggelar RUPSLB pada akhir bulan ini yang turut mengagendakan perombakan jajaran direksi. 

'Portofolio' yang Tidak Menguntungkan

Danantara saat ini menguasai mayoritas saham Garuda Indonesia, yang secara fundamental sejatinya belum bisa memberikan keuntungan bagi pengelola investasi negara tersebut.

Padahal, jauh sebelum Danantara berdiri, upaya penyelamatan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) telah dilakukan. Sejauh itu pula penyelamatan tak kunjung membuahkan hasil.

Pada 2022, Garuda Indonesia (GIAA) memperoleh penyertaan modal negara (PMN) senilai Rp7,5 triliun.

Bukan hanya dari PMN, Garuda Indonesia juga mendapat dana segar tambahan hingga triliunan untuk mengimbangi porsi kepemilikan saham publik dari PMN tersebut, melalui serangkaian penawaran umum terbatas (PUT).

Alih-alih untung, Garuda Indonesia masih merugi hingga menyebabkan ekuitas negatif.

Ilustrasi Garuda Indonesia. (Dimas Ardian/Bloomberg)

Meski rugi bersih turun, nyatanya ekuitas GIAA justru membengkak sepanjang kuartal I/2025. 

Berdasarkan laporan keuangan kuartal I/2025, GIAA membukukan ekuitas negatif US$1,43 miliar atau sekitar Rp23,71 triliun (kurs 31 Maret 2025 Rp16.598). Angka ini naik 5,82% dibandingkan posisi akhir 2024 yang tercatat sebesar US$1,35 miliar. 

Sementara itu, GIAA memiliki total kewajiban sebesar US$7,88 miliar setara Rp130,71 triliun dengan rincian liabilitas jangka pendek sebesar US$1,25 miliar atau Rp20,74 triliun dan liabilitas jangka panjang sebanyak US$6,62 miliar, setara Rp109,87 triliun. Adapun aset tercatat hingga kuartal I/2025 yaitu sebanyak US$6,45 miliar atau sebesar Rp107,26 triliun.

Sepanjang kuartal I/2025, GIAA mampu meningkatkan pendapatan usaha menjadi US$723,56 juta setara Rp12 triliun naik 1,62% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar US$711,98 miliar. Pendapatan GIAA masih didominasi oleh penerbangan berjadwal yaitu US$603,68 juta dan penerbangan tidak berjadwal sebesar US$37,95 juta. 

Sejalan dengan peningkatan pendapatan, beban usaha GIAA juga membengkak dari US$702,92 juta menjadi US$718,35 juta atau sebesar Rp11,92 triliun pada kuartal I/2025. 

Setelah diakumulasikan, GIAA membukukan rugi bersih yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar US$76,48 juta atau setara Rp1,26 triliun. Posisi ini turun 12,12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$87,03 juta.

(dhf)

No more pages