"Trump menyebut status tarif saat ini, dengan cara yang menyesatkan, untuk menunjukkan dia memiliki keunggulan," kata Neo Wang, Kepala Analis Makro China Evercore ISI.
Komentar Trump memicu pertanyaan baru tentang syarat-syarat perjanjian yang dicapai oleh negosiator AS dan China pada Selasa. Pasar bereaksi beragam pada Rabu terhadap pernyataan Trump dan timnya, di mana indeks saham AS berfluktuasi sepanjang hari.
Dalam unggahan berikutnya, Trump mengatakan Xi dan dirinya "akan bekerja sama erat untuk membuka pasar China bagi perdagangan Amerika. Ini akan menjadi KEMENANGAN besar bagi kedua negara!!!"
Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick, yang berbicara singkat kepada wartawan di Gedung Putih pada Rabu, meyakini pakta terbaru akan selesai dalam beberapa hari dan mengisyaratkan versi tertulisnya tidak akan dirilis secara publik.
Unggahan awal Trump menyarankan China mungkin harus memulai kembali pengiriman tanah jarang sebelum AS setuju untuk melonggarkan aturan ekspor pada teknologi penting. Komentarnya ini menimbulkan keraguan apakah Beijing bisa menegosiasikan tarif yang lebih rendah.
"Mereka akan segera menyetujui semua permintaan magnet dari perusahaan-perusahaan AS," kata Lutnick kepada CNBC. "Saat mereka melakukannya, kami akan mencabut kebijakan kami."
Pekan lalu, Kamar Dagang Amerika di China mengungkap sejumlah pemasok China untuk perusahaan-perusahaan AS baru-baru ini menerima lisensi ekspor tanah jarang selama enam bulan, tetapi ketidakpastian atas banyaknya permintaan yang tertunda tetap ada.
Wall Street Journal melaporkan Beijing memberlakukan batas waktu enam bulan pada lisensi tersebut untuk menjaga daya ungkit jika ketegangan perdagangan kembali memanas.
Menurut pejabat Gedung Putih, angka tarif yang diunggah Trump mencakup tarif dasar 10%, pungutan 20% terkait perdagangan fentanil, dan sekitar 25% tarif yang sudah ada sejak masa jabatan pertamanya, serta tarif negara yang paling disukai—meski total pastinya masih belum jelas.
Ketika ditanya CNBC apakah tingkat tarif tetap tidak akan berubah, Lutnick menjawab, "Anda tentu bisa mengatakan itu."
Kementerian Perdagangan China belum memberikan komentarnya tentang masalah ini.
AS dan China mencapai kesepakatan pada Selasa setelah negosiasi maraton untuk menerapkan ketentuan gencatan senjata tarif yang disepakati bulan lalu di Jenewa. Investor memantau perundingan dengan saksama, di tengah kekhawatiran bahwa ketegangan baru-baru ini bisa meluas dan memicu kembali perang dagang terbuka antara dua ekonomi terbesar di dunia.
Namun, pada akhir sesi negosiasi dua hari rinciannya masih minim, dan Trump buru-buru mengisi kekosongan tersebut.
"MAGNET PENUH, DAN SETIAP TANAH JARANG YANG DIBUTUHKAN AKAN DISEDIAKAN OLEH CHINA SEBELUMNYA," kata Trump dalam unggahannya. "DEMIKIAN PULA, KAMI AKAN MEMBERIKAN CHINA APA YANG TELAH DISETUJUI, TERMASUK MAHASISWA CHINA YANG BELAJAR DI PERGURUAN TINGGI DAN UNIVERSITAS KAMI (YANG SELALU BAIK BAGI SAYA!)."
Pertemuan di London diadakan secara mendadak menyusul panggilan telepon pekan lalu antara Trump dan Xi, setelah kedua negara saling menuduh melanggar Perjanjian Jenewa. Para pejabat AS menuduh China menunda pengiriman magnet, sementara Beijing meluapkan kemarahannya atas pembatasan baru pemerintahan Trump terhadap perangkat lunak desain cip, mesin jet, dan visa pelajar.
Perselisihan tersebut menunjukkan peran sentral aturan ekspor dalam persaingan ekonomi antara kedua negara adidaya itu.
China mendominasi pasar tanah jarang yang dibutuhkan untuk produksi pertahanan dan kendaraan listrik secara global, dan juga menginginkan cip yang lebih canggih untuk mendukung ambisi kecerdasan buatannya (AI).
Berdasarkan perjanjian tersebut, Lutnick menuturkan China berjanji akan mempercepat pengiriman tanah jarang yang penting bagi perusahaan otomotif dan pertahanan AS, sementara Washington setuju untuk melonggarkan beberapa aturan ekspornya.
Namun, pada Rabu, Menteri Perdagangan tersebut menyatakan pembatasan terkait cip paling canggih akan tetap berlaku.
"Sangat jelas kami bersaing dengan China dalam perlombaan kecerdasan buatan," kata Lutnick kepada CNBC. "Kami tidak akan memberi mereka cip terbaik kami, dan tentu saja mereka menginginkannya."
Dia juga mengatakan pembatasan pada produk-produk penting seperti suku cadang pesawat dan etana yang baru-baru ini diberlakukan AS dimaksudkan untuk menciptakan daya ungkit dalam negosiasi dengan Beijing.
"Ketika mereka mengeluarkan kartu magnet tanah jarangnya, kami mengeluarkan kartu kami yang bertuliskan, 'lihat, kalian tidak bisa melakukan itu pada Amerika,'" kata Lutnick. "Jika kalian ingin mengganggu kami, AS di bawah pimpinan Donald Trump cukup kuat untuk mengganggu kalian kembali dengan cara yang sama."
(bbn)



























