Pergerakan rupiah yang cenderung stabil sepekan ini banyak diuntungkan oleh dukungan pasar global dengan pelemahan the greenback. Pasalnya, pada saat yang sama, tekanan jual asing (outflows) dari pasar saham dan surat utang domestik membesar sepekan ini.
Mengacu data Bloomberg, asing mencetak net sell sebesar US$ 288,4 juta di pasar saham selama pekan pendek ini. Dengan kurs JISDOR terakhir di Rp16.277/US$, nilai penjualan bersih investor asing di saham itu setara dengan Rp4,7 triliun (all market).
Sementara di pasar surat utang negara, sampai data terakhir 3 Juni, investor asing membukukan net sell sebesar US$ 109,6 juta, setara dengan Rp1,78 triliun.
Adapun berdasarkan data Bank Indonesia, selama periode 2-4 Juni, investor asing membukukan net sell sebesar Rp4,48 triliun di pasar keuangan domestik.
Angka itu terdiri atas net sell di pasar saham oleh asing sebesar Rp3,98 triliun, lalu di instrumen Sekuritas Rupiah (SRBI) sebesar Rp5,69 triliun. Sedangkan di pasar SBN, asing mencatat net buy Rp5,19 triliun pada periode yang sama.
Arus keluar modal asing, kemungkinan karena terpicu sentimen negatif dari data neraca dagang April yang mencatat penyusutan nilai surplus di luar dugaan, dengan penurunan yang sangat besar.
Lonjakan impor selama April yang di luar dugaan pasar, bila berlanjut pada bulan-bulan berikutnya, mengancam rekor 60 bulan surplus dagang. Bila neraca perdagangan berbalik defisit, ada risiko pelebaran defisit transaksi berjalan menjadi lebih dari 1% dari Produk Domestik Bruto. Itu akan memicu tekanan besar pada rupiah.
Di sisi lain, kinerja ekspor komoditas unggulan RI pada April yang menunjukkan kelesuan, juga mengikis minat investor pada saham-saham sektor terkait.
(rui)




























