Logo Bloomberg Technoz

Serangkaian serangan berani Ukraina terhadap Rusia menandai kemunduran yang memalukan bagi Kremlin, termasuk serangan akhir pekan lalu terhadap pangkalan udara sejauh Siberia menggunakan drone yang disembunyikan di dalam truk.

Keterangan Kremlin mengenai panggilan telepon pada Rabu tidak menyebutkan kemungkinan pembalasan, sebaliknya menekankan bahwa Moskow berharap kedua pihak bisa terus berunding. Ajudan Kremlin Yuri Ushakov juga mengatakan Trump memberi tahu Putin dia tidak mendapat pemberitahuan sebelumnya mengenai operasi tersebut.

Sebelumnya pada hari yang sama, Putin menolak tawaran Zelenskiy untuk negosiasi tingkat tinggi secara langsung dalam pidatonya, di mana dia tidak menyebut serangan terhadap pangkalan udara.

"Bagaimana pertemuan seperti itu bisa diadakan dalam kondisi seperti ini? Apa yang perlu dibicarakan?" ucap Putin dalam pertemuan dengan pejabat pemerintah yang disiarkan televisi, dan menuduh Ukraina sebagai dalang di balik serangan terpisah di jembatan.

Ilustrasi Vladimir Putin dan Volodymyr Zelenskyy (Bloomberg)

Pejabat Rusia dan Ukraina berdiskusi di Istanbul pada Senin dalam pertemuan kedua yang diumumkan secara publik, berbagi dokumen melalui perantara Turki, dan berencana bertemu lagi akhir bulan ini. Mereka juga sepakat saling menukar tahanan lagi.

Namun pada Rabu, Zelenskiy mengatakan pembicaraan semacam itu tidak produktif dan menekankan bahwa dia bersedia berbicara langsung dengan Putin.

"Melanjutkan pertemuan diplomatik di Istanbul pada tingkat yang tidak menyelesaikan apa pun lebih lanjut, menurut saya, tidak ada artinya," kata Zelenskiy kepada wartawan di Kyiv, menyebut syarat-syarat Rusia untuk perdamaian sebagai "ultimatum."

Ia mengusulkan gencatan senjata hingga pertemuan para pemimpin di lokasi "pilihan Rusia," termasuk Istanbul, Vatikan atau Swiss. Kremlin mengatakan Putin juga berbicara dengan Paus Leo XIV tentang "minatnya dalam mencapai perdamaian melalui cara politik dan diplomatik." Selama percakapan, "Paus menyerukan agar Rusia bergerak mendukung perdamaian," menurut pernyataan resmi Vatikan.

Di Washington, Kepala Staf Zelenskiy, Andriy Yermak mengatakan dia bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan membahas perundingan Istanbul dan "langkah negosiasi selanjutnya."

Vladyslav Vlasiuk, utusan khusus untuk sanksi, mengatakan kepada wartawan pada konferensi pers terpisah di Washington bahwa RUU sanksi dengan dukungan bilateral di Senat akan mencegah Rusia meraih sekitar US$60 miliar pendapatan minyak, yang menurutnya setara dengan jumlah yang Moskow habiskan setiap tahun untuk perang.

Tidak jelas apakah Trump akan mendukung RUU tersebut, yang menurut sponsor utamanya—Senator Partai Republik Lindsey Graham dan Senator Partai Demokrat Richard Blumenthal—ingin diberlakukan sebelum pertemuan para pemimpin G-7 di Kanada akhir bulan ini.

Trump juga mengatakan Rusia mungkin akan mengambil peran dalam negosiasi dengan Iran, titik api lain di mana Presiden AS kesulitan mencapai kesepakatan sambil mengancam adanya konsekuensi bagi Teheran yang tak disebutkan secara spesifik.

"Presiden Putin menyarankan ia akan ikut serta dalam diskusi dengan Iran dan ia mungkin bisa membantu menyelesaikannya dengan cepat," kata Trump.

"Menurut saya, Iran telah menunda keputusan mereka terkait masalah yang sangat penting ini, dan kami membutuhkan jawaban yang pasti dalam waktu yang sangat singkat!"

Di sisi lain, Kremlin bahkan kurang berkomitmen terkait Iran. Setelah panggilan telepon kedua pemimpin itu, Kremlin mengatakan bahwa Trump berpendapat Rusia bisa memberikan bantuan dan akan menghargainya.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei sebelumnya mengkritik proposal kesepakatan nuklir dari AS dan menyebut pejabat AS "arogan" karena mengharapkan Republik Islam menghentikan pengayaan uranium.

Iran dan AS telah mengadakan negosiasi sejak April guna mengakhiri perselisihan yang berlangsung selama bertahun-tahun atas program nuklir Teheran, dan sejauh ini telah diadakan lima kali perundingan yang dimediasi oleh Oman.

(bbn)

No more pages