"Melihat bagaimana data JOLTS sering naik turun drastis setiap bulan, saya hanya akan menganggapnya signifikan jika ada pergerakan besar yang konsisten selama dua bulan berturut-turut dan/atau jika angka tersebut mencapai level baru," ujar Stephen Stanley, kepala ekonom di Santander US Capital Markets, dalam sebuah catatan. "Pada April, tidak satu pun dari indikator utama—lowongan kerja, pengunduran diri, dan PHK—yang menunjukkan hal itu."
Kenaikan jumlah lowongan, disertai dengan laju perekrutan yang stabil dan tingkat pengangguran yang rendah, mendukung pandangan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) bahwa pasar tenaga kerja berada dalam kondisi baik. Namun, kini dibutuhkan waktu lebih lama bagi pencari kerja untuk mendapatkan pekerjaan baru, dan para ekonom memperkirakan pasar tenaga kerja akan melemah dalam beberapa bulan mendatang karena tekanan dari kebijakan tarif Donald Trump.
Sejauh ini, pelemahan itu belum tercermin dalam data, memperkuat sikap hati-hati The Fed untuk mempertahankan suku bunga tetap. Para pembuat kebijakan dan analis kini menanti laporan ketenagakerjaan Mei dari pemerintah yang akan dirilis Jumat ini, yang diperkirakan menunjukkan perlambatan dalam penciptaan lapangan kerja serta tingkat pengangguran yang stabil.
"Secara keseluruhan, jumlah lowongan kerja memang secara mengejutkan meningkat, namun rincian laporan JOLTS April justru menunjukkan adanya pelemahan di pasar tenaga kerja," kata Stuart Paul, ekonom dari Bloomberg Economics. "Lowongan menurun di sektor jasa non-esensial seperti pariwisata, dan juga di sektor manufaktur. PHK meningkat, dan tingkat pengunduran diri turun karena pekerja merasa semakin sulit mendapatkan pekerjaan baru. Meski para pengambil kebijakan menggambarkan pasar tenaga kerja masih 'solid', tanda-tanda pelemahan ini bisa menjadi alasan untuk mempertahankan bias pelonggaran suku bunga."
Laporan JOLTS juga menunjukkan bahwa angka perekrutan meningkat ke level tertinggi dalam hampir setahun. Namun demikian, jumlah PHK naik ke posisi tertinggi sejak Oktober, dan semakin sedikit orang yang secara sukarela mengundurkan diri dari pekerjaannya—menunjukkan bahwa kepercayaan diri pekerja untuk pindah kerja mulai menurun.
Rasio lowongan kerja terhadap jumlah pengangguran—indikator penting yang dipantau The Fed untuk melihat keseimbangan antara permintaan dan pasokan tenaga kerja—bertahan di angka 1,0. Angka ini setara dengan level sebelum pandemi, jauh menurun dari puncaknya di tahun 2022 yang mencapai dua lowongan untuk setiap penganggur.
Meski begitu, sebagian ekonom mempertanyakan keakuratan data JOLTS, antara lain karena tingkat respons surveinya yang rendah serta adanya revisi signifikan dari bulan ke bulan. Indeks serupa milik situs pencari kerja Indeed, yang diperbarui secara harian, justru menunjukkan adanya penurunan jumlah lowongan pada April.
(bbn)





























