Logo Bloomberg Technoz

Sementara itu, Kim lebih dekat dengan posisi mantan Presiden Yoon Suk Yeol yang telah diberhentikan. Ia bersikap keras terhadap Korea Utara dan mendukung pembentukan aliansi seperti NATO untuk berbagi sumber daya nuklir dengan AS.

Tempat pemungutan suara dibuka sejak pukul 06.00 hingga 20.00 waktu setempat, dengan pasar keuangan domestik ditutup sementara. Dari sekitar 44,4 juta pemilih terdaftar, lebih dari 15 juta orang telah mencoblos lebih awal pekan lalu.

Pemilu ini diadakan setelah Presiden Yoon resmi diberhentikan pada April oleh Mahkamah Konstitusi, menyusul sidang pemakzulan atas upayanya memberlakukan darurat militer pada Desember. Yoon berdalih dekrit itu diperlukan untuk mengatasi kebuntuan di parlemen dan dugaan simpati terhadap Korea Utara di kalangan oposisi. Yoon menjadi presiden ketiga dalam 21 tahun terakhir yang menghadapi pemakzulan.

Dekrit yang hanya berlaku singkat itu mengguncang publik dan mitra internasional Korsel, mengacaukan pasar keuangan dan memicu enam bulan penuh gejolak politik, demonstrasi, serta pergantian pemimpin sementara.

Lee Jae-myung (Photographer: SeongJoon Cho/Bloomberg)

Lee, mantan pengacara buruh progresif yang kalah tipis dari Yoon dalam pemilu sebelumnya, mengusung kampanye peningkatan belanja pemerintah, perlindungan tenaga kerja yang lebih kuat, dan pembatasan kekuasaan konglomerat keluarga. Ia juga mendukung reformasi konstitusi agar presiden dapat menjabat dua periode serta penutupan pembangkit listrik tenaga batu bara.

Sempat diprediksi menang telak karena perannya dalam pemakzulan Yoon, elektabilitas Lee kini bersaing ketat dengan Kim.

Kim (73 tahun), mantan aktivis buruh yang sempat dipenjara di era rezim militer, menawarkan pendekatan konservatif pro-bisnis. Ia berjanji akan melakukan deregulasi, mendukung UMKM, serta menurunkan pajak. Ia juga mendukung masa jabatan dua periode dan lebih pro terhadap penggunaan tenaga nuklir dibanding Lee.

Sementara itu, Lee Jun-seok membelah suara konservatif dengan kampanye yang menyasar generasi muda dan kelompok pemilih yang lebih luas, sebagai bagian dari upayanya membangun citra sebagai pemimpin masa depan.

Lee Jun-seok (Photographer: Jean Chung/Bloomberg)

Pada hari terakhir kampanye, dua kandidat utama memilih lokasi simbolis untuk menyampaikan pidato pamungkas mereka.

Lee Jae-myung berbicara di taman sekitar Gedung Majelis Nasional di Seoul, lokasi ia pernah memanjat pagar sambil menyiarkan langsung aksinya, menyerukan anggota parlemen untuk menolak dekrit darurat militer, meski dikepung aparat keamanan.

Kim berkampanye di Pulau Jeju, memperingati korban pemberontakan 1940-an yang ditumpas secara brutal oleh pemerintah.

Meski enam bulan ketegangan politik terakhir berlangsung relatif damai, insiden penyerbuan gedung pengadilan pada Januari—usai diterbitkannya surat perintah penangkapan baru terhadap Yoon—menggugah ingatan publik akan kerusuhan Capitol Hill di AS pada 6 Januari 2021.

Menurut laporan Yonhap News, Kepolisian Nasional akan mengerahkan hampir 30.000 personel di 14.295 TPS di seluruh negeri sebagai bagian dari pengamanan pemilu. Lee dari Partai Demokrat bahkan mengenakan rompi antipeluru selama kampanye usai selamat dari upaya pembunuhan pada Januari 2024.

Jika Lee menang, ia akan mendapatkan dukungan mayoritas kuat dari parlemen yang sudah dikuasai partainya. Hal ini akan mempermudah jalannya pemerintahan. Namun jika Kim menang, ia justru akan menghadapi perlawanan sejak hari pertama karena tidak memiliki dukungan legislatif.

Menjajaki kesepakatan dagang baru dengan AS akan menjadi prioritas utama, guna melindungi ekonomi Korsel yang bergantung pada ekspor dari dampak tarif Trump.

Lee mengatakan tidak perlu terburu-buru meneken kesepakatan baru dengan AS, sementara Kim ingin mempercepat proses dengan bertemu Trump secara langsung.

Tarif timbal balik 25% yang dikenakan pada Korsel termasuk yang tertinggi di antara sekutu AS. Meski saat ini ditangguhkan selama 90 hari, kekosongan kepemimpinan telah menghambat kemajuan negosiasi. Tarif tambahan terhadap sektor-sektor seperti semikonduktor, otomotif, baja, dan aluminium berpotensi memperburuk ekonomi yang akan diwarisi oleh presiden baru Korea Selatan.

(bbn)

No more pages