Motorola dan Google melengkapi lima besar, masing-masing mengirimkan 1,7 juta dan 0,9 juta unit. Ini juga menjadi kali pertama Google masuk ke dalam peringkat lima besar vendor smartphone triwulanan di kawasan tersebut.
Analis Senior Canalys, Runar Bjørhovde, mengungkapkan bahwa banyak vendor mengalami awal tahun yang sulit, terutama mereka yang bergantung pada penjualan perangkat di bawah EU€400 (Rp7 jutaan)
"Setelah sedikit pemulihan tahun lalu, beberapa vendor melebih-lebihkan permintaan menjelang akhir 2024 dan memasuki Q1 2025 dengan kelebihan stok. Permintaan untuk perangkat entry-level juga terpukul akibat efek penggantian perangkat yang terjadi lebih awal dan kompetisi harga yang agresif," jelas Bjørhovde.
Volume pengiriman perangkat dengan harga di bawah EU€200 (Rp3,6 juta) tercatat sebagai yang terendah dalam lebih dari satu dekade, mencerminkan tantangan besar di segmen tersebut. Xiaomi dan Motorola disebut sebagai vendor yang paling terdampak, meski tekanan juga dirasakan oleh pemain lain di luar lima besar.
Sebaliknya, permintaan untuk perangkat premium terus meningkat. Pangsa pasar perangkat dengan harga di atas EU€800 (Rp15 jutaan) mencapai rekor baru sebesar 32% pada Q1 2025.
Apple diketahui mencatat pertumbuhan dua digit meskipun masih menyisakan stok model iPhone 13 dan 14 yang dihentikan produksinya setelah aturan baru soal port USB-C.
“Permintaan yang kuat, baik dari konsumen maupun korporasi, terus menguntungkan Apple, meskipun mereka menghadapi tantangan regulasi dan denda di Eropa,” kata Bjørhovde.
Samsung juga mencetak rekor volume tertinggi untuk perangkat kelas atas, dengan pengiriman Galaxy S-series naik 12% dibandingkan Q1 2024. Strategi promosi agresif seperti diskon tukar tambah, bundel perangkat, dan peluncuran program Galaxy Club—yang menjanjikan nilai tukar tambah 50% dalam 12–15 bulan—dinilai efektif dalam mendorong konsumen untuk melakukan upgrade.
Bjørhovde menambahkan mitra saluran (channel partners) di Eropa mulai mengkhawatirkan dominasi dua pemain besar, Apple dan Samsung, yang terus memperbesar pengaruh dan pangsa pasar mereka.
"Tekanan permintaan dan biaya hanya akan meningkat untuk semua vendor karena regulasi, seperti desain ramah lingkungan dan arahan baterai, akan semakin menantang margin operasi dan berpotensi mengurangi total pasar yang dapat dituju (TAM), khususnya di segmen anggaran yang sangat kompetitif," ujarnya.
Canalys memperkirakan pasar smartphone Eropa akan menyusut 3% sepanjang 2025, namun berpotensi pulih dengan pertumbuhan 1% pada 2026. Di tengah kondisi ini, "memahami bagaimana perilaku konsumen dan perjalanan pembelian berkembang sangat penting untuk menemukan strategi dan taktik yang paling efektif untuk memenangkan pelanggan baru dalam lingkungan yang sangat kompetitif di mana semakin sulit untuk membedakan dan menangkap keingintahuan pengguna akhir."
(prc/wep)






























