Logo Bloomberg Technoz

Sementara itu, kapasitas penyimpanan atau storage ditargetkan mencapai 3 GW atau mengambil bagian 11%.

Dalam dokumen RUPTL, PLN menargetkan tambahan kapasitas setrum mencapai 69,5 GW sepanjang 2025 sampai dengan 2034.

Sebagian besar kapasitas pembangkit itu akan diisi oleh sumber EBT mencapai 42,6 GW atau 61% dari keseluruhan kapasitas sampai akhir 2034 nanti.

Adapun, pembangkit fosil mengambil bagian sekitar 16,6 GW atau 24% dari total kapasitas terpasang, sementara investasi fasilitas penyimpanan atau storage mencapai 10,3 GW.

“PLN wajib menjalankan apa yang menjadi keputusan yang kita godok bareng-bareng, lokasi semuanya sudah jelas di mana, kabupaten apa dan tahun berapa dibangun,” kata Bahlil.

Adapun pada periode 2030 sampai dengan 2034, alokasi kapasitas untuk pembangkit fosil makin sempit di kisaran 3,9 GW atau 10% dari total tambahan setrum terpasang.

Saat itu, Kementerian ESDM mengerek rencana kapasitas pembangkit EBT menjadi 30,4 GW atau 73%, dengan pembangunan kapasitas penyimpanan atau storage sebesar 7,3 GW atau 17%.

Sebaran Bauran EBT

Sebagian besar alokasi tambahan pembangkit EBT diarahkan untuk sistem Jawa, Madura, Bali dengan kapasitas mencapai 19,6 GW.

Selanjutnya, sistem Sumatra ditargetkan bisa mengerek kapasitas pembangkit EBT mencapai 9,5 GW pada periode 2025 sampai dengan 2034.

Sementara itu, tambahan kapasitas pembangkit EBT besar lainnya berasal dari sistem Sulawesi dengan alokasi 7,7 GW.

Adapun, sistem Kalimantan dan sistem Maluku, Papua, Nusa Tenggara masing-masing memiliki alokasi pembangkit EBT sebesar 3,5 GW dan 2,3 GW.

(naw)

No more pages