Dia pun memastikan spesifikasi minyak Rusia yang akan diimpor perseroan akan sesuai dengan kilang-kilang di dalam negeri.
Adapun, mekanisme impor minyak Rusia akan dilakukan untuk serapan langsung ke kilang, bukan tangki penyimpanan atau storage.
“Langsung ke refinery lah. Anda punya crude Rusia yang sesuai dengan kita, terus terdaftar di kilang, silakan ikut tender. Akan tetapi, tetap tendernya berdasarkan kriteria tender yang disepakati,” tegas Taufik.
Harga Diskon
Untuk diketahui, minyak Rusia dijual dengan harga diskon setelah Kremlin mendapatkan sanksi berupa price cap di level US$60/barel dari G-7, menyusul invasinya ke Ukraina pada Februari 2022.
Praktisi industri migas Hadi Ismoyo mengungkapkan diskon harga minyak Rusia, berdasarkan temuannya, berkisar antara US$10—US$15 per barel.
"Russia sendiri jarang mengeluarkan angka resmi. Saya berkali-kali ketemu pedagang minyak Rusia, diskonnya sekitar US$13/barel," ujarnya saat dihubungi, baru-baru ini.
Dalam hal jual-beli minyak, terang Hadi, Indonesia mengacu pada harga internasional Brent, kemudian dihitung ulang dengan modifikasi sesuai dengan karakter harga acuan minyak nasional.
Dengan demikian, jika Indonesia berniat mengimpor dari Rusia, harga acuan yang dibayar pun menggunakan harga Brent, bukan Urals. "Karena di kalangan industri migas kita, tidak dikenal acuan Urals."
Menurut perhitungan Hadi, jika Indonesia mengimpor dari Rusia, perkiraan harga minyak Negeri Beruang Merah setelah didiskon adalah sekitar US$50—US$55 per barel, dengan rumus harga Brent dikurangi diskon US$10—US$15 per barel dan asumsi Brent di level US$65/barel.
Minyak Urals bergerak di harga US$58,36/barel pada hari ini, menyitir data Trading Economics. Nilai tersebut turun dari US$68,06 pada 20 Februari 2025.
Sebagai perbandingan, Brent untuk pengiriman Juli naik 1,7% menjadi US$66,48/barel pada pukul 10:34 pagi di Singapura. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli naik 1,8% menjadi US$63,13 per barel.
Dalam kaitan itu, Hadi yang juga Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC) itu menilai pemerintah akan sangat diuntungkan jika membeli minyak dari Rusia.
“Jadi sangat murah menurut saya, cukup menarik harganya. Kalau dilihat dari acuan internasional, minyak Rusia yang masih kompetitif. Hanya saja diperlukan keberanian pemerintah RI untuk mengambil keputusan seperti India dan China yang banyak mendapat minyak dari Rusia,” kata Hadi.
"Kalau kita mengambil minyak Rusia itu, yang sering ribut kan Singapura [karena] di belakanganya ya AS. Karena volume impor dari mereka dengan patokan harga internasional menjadi berkurang."
Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Dadan Kusdiana medio April mengatakan pemerintah akan mengeksplorasi semua potensi kerja sama sektor energi dengan Rusia, tidak terkecuali untuk pembelian minyak mentah.
"Ya kita semua potensi kerja sama kita eksplorasi," ujar Dadan saat ditemui di sela agenda Pertemuan Sidang Komisi Bersama ke-13 antara Indonesia dan Rusia di kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Selasa (15/4/2025).
Kendati demikian, Dadan mengatakan pertemuan dengan delegasi Rusia tersebut bukan membahas negosiasi perjanjian kerja sama untuk kontrak pembelian minyak, tetapi untuk mengeksplorasi berbagai potensi kerja sama.
"Ini kan bukan perjanjian kerja sama kontrak segala macam, ini antarpemerintah dengan pemerintah, kita mengeksplorasi," ujarnya.
Keinginan Indonesia bisa membeli minyak dari Rusia pernah dilemparkan oleh Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan usai resmi bergabung secara penuh dalam aliansi Brasil, Russia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS) pada Senin (6/1/2025).
Luhut menyebut pada dasarnya Indonesia bisa membeli minyak dari mana pun, termasuk dari Rusia, sepanjang transaksinya menguntungkan Indonesia dengan mendapatkan harga yang lebih murah dibandingkan dengan mengimpor dari negara lain.
"Ya ke mana saja kalau menguntungkan Republik Indonesia kita beli, kalau kita ada dari bulan kita beli [...] Kalau kita dapat lebih murah US$20 atau US$22 [per barel] kenapa tidak?" ujar Luhut saat ditemui di kantornya, Kamis (9/1/2025).
Sekadar catatan, pendapatan ekspor minyak Rusia pada April 2025 anjlok ke level terendah dalam hampir dua tahun karena harga minyak mentah global menurun di tengah permintaan yang lesu, menurut International Energy Agency (IEA).
Negara itu memperoleh IUS$13,2 miliar dari ekspor minyak mentah dan produk minyak bumi bulan lalu, terendah sejak Juni 2023, kata badan yang berpusat di Paris itu dalam laporan pasar bulanannya pada Kamis (15/5/2025).
Penurunan itu terjadi karena harga rata-rata tertimbang untuk minyak mentah Rusia merosot lebih jauh pada April, mencapai US$55,6 per barel, jauh di bawah batas harga yang diberlakukan oleh negara-negara G-7 internasional, IEA memperkirakan.
"Harga minyak Rusia mengikuti tren internasional," kata badan itu dalam laporan itu. "Peningkatan ketidakpastian perdagangan diperkirakan akan membebani ekonomi dunia dan, sebagai akibatnya, permintaan minyak."
(wdh)


























