Logo Bloomberg Technoz

Meski pihak China mengakui adanya “penyesuaian” dalam panduan tersebut, mereka tetap menilai kebijakan itu sebagai “tindakan diskriminatif” dan menuntut agar AS “mengoreksi kesalahannya.”

Ketegangan seputar cip generasi baru Huawei ini menunjukkan betapa rapuhnya hubungan antara AS dan China, meski kedua negara baru saja mencapai kesepakatan gencatan tarif di Swiss bulan ini. Kesepakatan itu berlaku selama 90 hari dan menjadi jendela sempit bagi kedua pihak untuk merumuskan kesepakatan yang lebih luas dalam menyeimbangkan perdagangan sekaligus melindungi kepentingan Beijing.

Ketua perunding dagang China, Li Chenggang, sebelumnya mengkritik kontrol ekspor terhadap cip-cip yang berkaitan dengan AI dalam pertemuan Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) pekan lalu di Korea Selatan. Mengutip seorang pejabat yang hadir dalam sesi tersebut, Li menyebut bahwa “sebuah negara telah melebih-lebihkan konsep keamanan nasional.” Menanggapi hal itu, Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, mengatakan bahwa langkah tersebut dilakukan demi melindungi kemampuan manufaktur domestik AS.

Li dan Greer bertemu dalam forum tersebut, tetapi kedua pihak belum mengungkap secara terbuka isi pembicaraan mereka. Juru bicara dari Departemen Perdagangan AS, Gedung Putih, dan Kementerian Perdagangan China belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi media.

Chip AI Huawei Ascend. (Fotografer: Zhang Bin/China News Service/Getty Images via Bloomberg)

Meski dialog antar dua ekonomi terbesar dunia telah kembali berlangsung, Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping belum berbicara langsung sejak Trump kembali menjabat. Beijing sejauh ini lebih memilih agar negosiasi dilakukan di tingkat bawah.

Belum ada agenda resmi terkait putaran pembicaraan dagang berikutnya. Kemungkinan pertemuan antar pejabat dapat terjadi pada KTT G20 bulan Juli di Afrika Selatan, meski Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, sempat melewatkan forum serupa awal tahun ini. Namun, pertemuan informal di lokasi netral lain masih dapat diatur.

Walau pemerintahan Trump mencabut sebagian regulasi era Biden terkait ekspor chip AI ke berbagai negara, mereka tetap berkomitmen untuk membatasi akses teknologi canggih ke China.

Salah satu daya tawar utama China dalam menekan AS agar melonggarkan pembatasan adalah dominasinya atas sumber mineral penting. Bloomberg News sebelumnya melaporkan bahwa pencabutan pembatasan ekspor tanah jarang dari Beijing menjadi perhatian utama AS dalam pembicaraan di Jenewa.

Ekspor tanah jarang dari China sempat turun 19% akibat pembatasan tersebut, yang mengancam pasokan global material penting untuk industri teknologi tinggi, mulai dari kendaraan listrik hingga sistem persenjataan.

Panduan terbaru AS juga diperkirakan akan semakin menyulitkan Huawei—yang berbasis di Shenzhen—dalam merealisasikan ambisinya mengembangkan chip semikonduktor canggih untuk AI dan ponsel pintar. Upaya tersebut sebelumnya sudah terhambat berat akibat sanksi AS.

Sejak keberhasilannya mengembangkan prosesor untuk seri Mate 60 Pro pada 2023—terlepas dari sanksi berat AS—Huawei semakin mengukuhkan posisinya sebagai simbol kebangkitan teknologi nasional China. Perusahaan ini juga mulai merambah ke sektor lain seperti kendaraan listrik dan kecerdasan buatan, termasuk pengembangan chip yang ditargetkan bisa menyaingi Nvidia.

Chip seri Ascend dari Huawei saat ini sebagian besar digunakan di China oleh perusahaan-perusahaan lokal yang kesulitan mengakses produk-produk canggih Nvidia. Namun, karena pembatasan dari AS, chip-chip ini mulai menembus pasar dalam negeri dan terbukti mampu menjalankan proses inferensi AI dengan cukup baik, menurut sejumlah pakar industri.

(bbn)

No more pages