“Pupuk [Indonesia] saja 150 [kargo] kan. Terus nanti ada totalnya [kurang lebih] 28 kargo,” kata Kepala SKK Migas Djoko Siswanto saat ditemui di Gedung DPD, Senin (24/2/2025).
SKK Migas sebelumnya meminta Inpex Corporation untuk mempercepat keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID) proyek Lapangan Abadi atau Blok Masela pada pertengahan 2026.
Target yang dipatok itu lebih cepat dari rencana keputusan investasi akhir yang ingin dikejar raksasa migas Jepang itu pada 2027.
“Harus tahun depan, ini kan kita percepat,” kata Djoko selepas seremoni Launching Initiation of Onshore Liquefied Natural Gas (OLNG) Feed Blok Masela, Rabu (9/4/2025).
Menurutnya, target yang diminta pemerintah itu relatif bisa dikejar operator blok, Inpex Masela Ltd dengan capaian FEED saat ini.
Dia beralasan sejumlah pekerjaan untuk OLNG, Subsea Umblical Riser & flowline (SURF) hingga gas export pipelines telah berjalan minimal 40% dari target awal tahun ini.
“Tadi kan sudah sekian persen, OLNG 40%, SURF 80%, gas export pipelines 80% tahun ini, jadi kita percepat,” kata Djoko.
Lapangan Abadi diestimasikan memiliki puncak produksi sebesar 9,5 juta ton LNG per tahun dan gas pipa 150 MMSCFD, serta 35.000 barel kondensat per hari (BCPD).
Saat ini, pemegang hak partisipasi di Blok Masela adalah Inpex Masela Limited dengan porsi 65%. Tadinya, sisa 35% hak partisipasi di blok tersebut dikendalikan oleh Shell Upstream Overseas Services Ltd.
Per Juli 2023, sebanyak 35% hak Partisipasi Shell dilego ke PT Pertamina Hulu Energi Masela dan Petrolian Nasional (Petronas) Masela Berhad dengan pembagian porsi masing-masing sebesar 20% dan 15%.
(mfd/wdh)




























