Pada Jumat malam lalu, Moody's yang merupakan satu dari triumvirat pemeringkat global, mengumumkan penurunan peringkat kredit teratas AS dari Aaa menjadi Aa1. Langkah Moody's itu memungkasi dua sekondannya yakni S&P dan Fitch yang sudah lebih dulu memangkas peringkat surat utang AS.
Kekhawatiran pasar beralasan dengan memilih keluar dulu dari pasar AS. Pasalnya, tidak ada tanda-tanda defisit utang AS akan turun dalam waktu dekat sehingga pasar meragukan apakah negeri itu bisa mengatasi pembengkakan utang yang luar biasa.
Para anggota parlemen AS malah tengah mempertimbangkan lebih banyak lagi pemotongan tarif pajak yang akan berdampak pada penurunan penerimaan AS. Di sisi lain, perekonomian negeri itu terancam melambat menyusul kemelut perang tarif yang dikobarkan Presiden Donald Trump.
Imbal hasil UST-30Y naik enam basis poin (bps) siang ini menyentuh 5%, yang menjadi level tertinggi sejak 2023. Pada tahun itu, yield UST-30Y pernah melambung ke level 5,18%, tertinggi sejak 2007.
"Penurunan peringkat utang bukan hal yang mengejutkan di tengah kemurahan hati fiskal yang tidak didanai dan terus meningkat," komentar Max Gokhman, Deputi Kepala Investasi di Franklin Templeton Investment Solutions, dilansir dari Bloomberg.
Menurutnya, biaya utang AS akan terus merangkak naik karena investor besar baik investor negara maupun institusi swasta akan secara bertahap beralih dari Treasury ke aset safe haven lain.
Baca juga: Dolar dan Obligasi AS Ramai Dijual, Dunia Tak Lagi Percaya AS?
Langkah itu bisa menciptakan spiral bearish yang berbahaya bagi tingkat imbal hasil surat utang AS, tekanan lebih lanjut pada dolar AS dan mengurangi daya tarik saham AS.
Sebagian analis memperkirakan, yield UST-10Y dan 30Y akan naik sekitar 5-10 bps lagi sebagai respon atas penurunan peringkat oleh Moody's.
Yang menarik, bila biasanya kenaikan yield akan menaikkan daya tarik mata uang, ini tak terjadi sekarang. Yield yang kian tinggi menambah skeptisisme pasar terhadap dolar AS. Indeks Bloomberg yang mengukur kekuatan dolar AS sudah mendekati titik terendah pada April lalu ditambah sentimen di pasar opsi jadi yang paling negatif dalam lima tahun.
Pada April lalu, pasar AS secara keseluruhan telah mengalami tekanan besar akibat pengumuman tarif resiprokal Trump di Rose Garden yang menandai babak baru Perang Dagang 2.0. Aset-aset AS setelahnya banyak dilepas.
Kengototan Trump akhirnya terhenti karena gejolak di pasar obligasi yang mulai mencemaskan sehingga vonis tarif resiprokal itu, termasuk pada Indonesia, dijeda waktu pemberlakuannya selama 90 hari atau sampai Juli nanti.
Kini, AS telah mencapai kesepakatan dengan Tiongkok, seteru utama dalam babakan ini. Sentimen pun membaik di pasar dengan indeks saham di Wall Street memulihkan diri. Namun, keputusan Moody's menaikkan lagi kekhawatiran tersebut sehingga Treasury kembali tertekan.
"Dalam jangka panjang, terkikisnya status safe haven US Treasury memiliki implikasi terhadap dolar AS dan permintaan pemodal global terhadap obligasi serta aset Amerika lainnya," kata Strategist Societe Generale Subadra Rajappa.
Kepercayaan Turun
Gubernur European Central Bank (ECB), bank sentral Eropa, Christine Lagarde dalam sebuah laporan yang dilansir oleh La Tribune Dimanche, menilai, penurunan nilai dolar AS terhadap euro agak berlawanan dengan biasanya. Namun, itu mencerminkan "ketidakpastian dan hilangnya kepercayaan terhadap kebijakan AS di antara segmen tertentu di pasar keuangan".
Peningkatan imbal hasil surat utang AS akan mempersulit Pemerintahan Trump melakukan pemangkasan defisit melalui peningkatan pembayaran bunga. Yield Treasury yang tinggi juga bisa melemahkan perekonomian lebih jauh lagi karena tingkat bunga kredit ke konsumen mulai hipotek sampai kartu kredit akan terdampak.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent cenderung menganggap enteng kekhawatiran pasar akan prospek Treasury dengan mengatakan pemerintah AS bertekad menurunkan pengeluaran federal dan menumbuhkan ekonomi.
Dalam wawancara di NBC saat ditanya komentarnya tentang keputusan Moody's, Bessent menyebut Moody's adalah indikator yang ketinggalan. "Itulah yang dipikirkan semua orang tentang lembaga kredit," katanya.
Pasar sejatinya juga telah mengantisipasi langkah Moody's mengingat defisit fiskal AS telah mendekati US$ 2 triliun per tahun. Rasio defisit fiskal AS akan melampaui rekor utang yang ditetapkan setelah Perang Dunia II, yaitu 107% dari Produk Domestik Bruto pada 2029 nanti, angka peringatan yang sudah dilansir oleh Kantor Anggaran Kongres.
Moody's dalam pengumumannya Jumat lalu mengatakan, defisit federal AS akan mencapai hampir 9% dari PDB pada 2035, naik dari 6,4% pada 2024 lalu terutama didorong oleh peningkatan pembayaran bunga atas utang, peningkatan pengeluaran dan pendapatan yang relatif rendah.
Yang jadi masalah juga, Parlemen AS juga masih melanjutkan penggodokan regulasi terkait keringanan pajak dan rencana belanja besar-besaran di mana hal itu diperkirakan akan menambah triliunan dolar utang pemerintah AS dalam beberapa tahun ke depan.
Komite Gabungan Perpajakan telah mematok total biaya RUU itu mencapai US$ 3,8 triliun selama dekade berikutnya walau ada analisis lain yang memperkirakan penambahan utang federal bisa lebih besar dari angka itu bila ketentuan sementara dalam bakal beleid tersebut diperpanjang.
Analis di Barclays dalam sebuah laporan mengatakan, mereka menilai penurunan peringkat oleh Moody's tidak akan mengubah suara di Kongres AS, ataupun memicu penjualan paksa obligasi pemerintah atau berdampak besar pada pasar keuangan.
"Penurunan peringkat kredit AS telah kehilangan signifikansi politik setelah S&P menurunkan peringkat pada 2011 dan dampaknya pun terbatas, jika ada," kata Michael McLean, Profesor dari Universitas California.
Dalam laporan terakhir yang dilansir Kementerian Keuangan AS, sekitar waktu yang sama dengan pengumuman Moody's, terungkap bahwa posisi kepemilikan US Treasury oleh Tiongkok telah berkurang pada Maret lalu. Hal itu mendorong spekulasi bahwa China tengah mengurangi eksposurnya di Treasury dan dolar AS.
Namun, secara umum, berdasarkan statistik baru yang diumumkan Kementerian Keuangan AS, permintaan asing terhadap surat utang negeri itu masih kuat pada Maret dan belum menunjukkan tanda-tanda hengkang nan kuat.
Meski demikian, yield UST-30Y akan jadi perhatian semua orang pekan ini menurut HSBC. "Pertanyaannya adalah, bagaimana cara agar imbal hasil itu kembali turun. Saat ini Anda tidak bisa benar-benar melihatnya," kata Steven Mayor, Head of Fixed Income Global Research HSBC.
Efek ke Indonesia
Kenaikan imbal hasil Treasury bukanlah kabar baik bagi Indonesia. Yield AS yang tinggi akan membuat daya tarik surat utang RI makin kurang menarik, karena selisih imbal hasil yang menyempit.
Saat ini, yield spread UST dengan SUN mencapai 234 bps, sudah lebih kecil dibanding beberapa waktu lalu ketika pernah kembali melebar di 300 bps.
Analis menilai, pergerakan bullish di pasar fixed income RI pada Jumat pekan lalu yang masih berlanjut sampai hari ini, yang menjadi salah satu sinyal antisipasi pasar akan penurunan BI rate pekan ini, mungkin tak bertahan lama.
Yield tinggi UST ditambah inflasi inti AS yang belum jinak, akan menahan Federal Reserve dari upaya pelonggaran pada September nanti.
"Kombinasi kebijakan itu dengan pemangkasan bunga acuan BI rate berpotensi menaikkan volatilitas rupiah pada kuartal tiga. Sementara itu, penurunan peringkat utang AS akan membuat yield spread 10Y tetap rendah di rentang 240-280 bps dengan catatan Kementerian Keuangan RI berhasil menjaga defisit fiskal tidak melebar melebihi -3.00% terhadap PDB, kata tim analis Mega Capital Sekuritas.
Pada Senin siang ini, yield SUN mayoritas turun di mana tenor 1Y terpangkas 5,9 bps, lalu tenor 5Y juga turun 1,7 bps dan 10Y turun 1 bps. Namun, tenor pendek 2Y naik 1,5 bps kini di 6,252%.
Sementara rupiah berbalik menguat setelah pagi tadi dibuka lemah, kini stabil di kisaran Rp16.430/US$, didukung oleh reli pasar saham yang berlanjut dengan kenaikan IHSG hingga 0,63% di level 7.151.
(rui/aji)


























