Logo Bloomberg Technoz

Gelombang 'Sell America' Menguat, Indonesia Diuntungkan?

Ruisa Khoiriyah
19 May 2025 15:18

Ilustrasi aktivitas ekonomi Amerika Serikat (Sumber: Bloomberg)
Ilustrasi aktivitas ekonomi Amerika Serikat (Sumber: Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Para pemodal global makin giat menjual aset-aset dari pasar keuangan Amerika Serikat (AS) dalam apa yang kini dikenal sebagai "Sell America", menyusul pemangkasan peringkat kredit negeri terbesar itu oleh Moody's Ratings pada pekan lalu.

Harga aset-aset AS berjatuhan, dari mulai saham, surat utang hingga pamor dolar yang makin meluncur turun. Mengacu data Bloomberg sampai Senin siang ini (19/5/2025), tingkat imbal hasil US Treasury, surat utang Pemerintah AS tenor panjang sudah menjebol level psikologis tertinggi di atas 5%.

Sementara perdagangan berjangka indeks saham di Wall Street juga lanjut tertekan di mana S&P 500 futures sudah ambles lebih dari 1% siang ini. Begitu juga indeks saham berjangka DJIA yang tergerus 0,8%, bersama Nasdaq futures yang turun 0,06%. Adapun indeks dolar AS sudah tergerus 0,48% jelang pembukaan pasar Eropa sore ini di level 100,6. 


Arus jual aset-aset pasar keuangan AS meningkat karena pasar makin khawatir dengan prospek kesehatan fiskal negeri dengan ukuran ekonomi terbesar di dunia tersebut.

Situasi ini bisa jadi pedang bermata dua bagi Indonesia. Penyempitan selisih imbal hasil investasi dengan AS, akibat kenaikan yield Treasury, bisa membuat pamor aset RI ikut tergerus sehingga animo asing bisa terdampak turun. Namun, di sisi lain, turut susutnya pamor dolar di pasar global akan memberi dorongan pada rupiah yang dinilai sudah oversold hingga valuasinya sudah murah. Volatilitas mata uang ke depan mungkin akan kembali meningkat.