Logo Bloomberg Technoz

Aksi Spekulan Mengintai di Tengah Mahalnya Harga Bawang Putih

Rezha Hadyan
25 May 2023 21:30
Bawang putih di pedagang pasar. (Dimas Ardian/Bloomberg)
Bawang putih di pedagang pasar. (Dimas Ardian/Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta – Satuan Tugas (Satgas) Pangan memperingatkan aksi spekulan atau penimbunan hingga penyelundupan bawang putih masih menjadi ancaman di tengah lonjakan harga komoditas tersebut akibat seretnya pasokan impor.

Harga bawang putih mengalami kenaikan hingga 11,1% selama sepekan terakhir. Mengutip situs Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan (Kemendag) per hari ini, Kamis (25/5/2023), harga bawang putih bertengger di Rp37.300/kilogram (kg).

Wakil Kepala Satgas Pangan Polri Helfi Assegaf mengatakan instansinya saat ini meningkatkan pengawasan dan penindakan terhadap pelaku usaha bawang putih. Sebab, selama ini kerap ditemukan pelanggaran hukum berupa penyelundupan hingga penimbunan komoditas pangan tersebut.

Helfi mengungkapkan Satgas Pangan sudah melakukan penindakan terhadap pelaku usaha yang melakukan penyelundupan dan penimbunan bawang putih pada 2021—2021. 

Namun, untuk tahun ini belum ada penindakan satupun yang dilakukan lantaran belum ada temuan pelanggaran hukum.

"Untuk 2023, Satgas Pangan sampai dengan saat ini belum menemukan adanya penyelundupan bawang putih, sampai dengan hari ini ya. Pada 2021—2022 ada,” katanya saat ditemui awak media, Kamis (25/5/2023).

Adapun, upaya yang dilakukan salah satunya adalah mendorong para pelaku usaha, khususnya pedagang agar secepatnya mengeluarkan stok mereka. Tidak dapat dipungkiri, banyak pedagang yang memilih untuk menahan stok agar mendapatkan keuntungan lebih apabila harga terus merangkak naik.

“Barang harus sampai ke masyarakat, jangan sampai ada numpuk di gudang. Makanya, anggota kita mengecek ke gudang-gudang," tegasnya.

Terkait dengan lonjakan harga yang terjadi saat ini, menurut Helfi sepenuhnya diakibatkan oleh kelangkaan bawang putih di pasaran. "Masih kurang stoknya dan masih menunggu barang dari luar, sementara realisasi impor masih menunggu beberapa hal,“ tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, analis Ketahanan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Retno Utami mengatakan kenaikan harga bawang putih yang terjadi belakangan ini terkait dengan ketersediaan komoditas tersebut di pasaran.

Tentu saja, persoalan ini tidak menyangkut dengan menurunnya produksi bawang putih di dalam negeri, lantaran selama ini 95% kebutuhan bawang putih Indonesia masih bergantung pada impor.

“Bawang putih itu bukan komoditas yang kita produksi, [sebanyak] 95% kebutuhan bawang putih Indonesia itu didatangkan dari luar negeri atau impor. Ketergantungan kita terhadap impor bawang putih ini sangat tinggi. Dengan demikian, ketika suplai berkurang kemungkinan ada kendala [impor],”katanya.

Sayangnya, Retno tidak mengungkapkan apa yang menjadi kendala impor bawang putih. Namun yang jelas, Bapanas akan terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk pelaku usaha atau importir agar pasokan komoditas tersebut tak lagi seret.

“Kita juga mencoba menganalisis melalui neraca. Artinya, menghitung ketersediaan dan kebutuhan yang berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait serta pelaku usaha,” ujarnya.

Berdasarkan data Bapanas, kebutuhan bulanan bawang putih di dalam negeri mencapai 54.317 ton per bulan. Adapun, stok komoditas tersebut pada awal tahun ini tercatat sebanyak 143.000 ton.

(rez/wdh)