Meski belum mengungkap nama produsen secara publik, pemerintah AS kini memperketat penilaian terhadap peralatan energi buatan luar negeri. Departemen Energi AS (DOE) menyatakan bahwa mereka terus menilai risiko dari teknologi baru, dan menekankan pentingnya transparansi dalam fitur perangkat yang digunakan.
"Meskipun fungsi ini mungkin tidak memiliki maksud jahat, sangat penting bagi mereka yang melakukan pengadaan untuk memiliki pemahaman menyeluruh tentang kemampuan produk yang diterima," kata seorang juru bicara.
Berbagai cara sedang dilakukan untuk mengatasi kesenjangan dalam pengungkapan melalui "Software Bill of Materials" - atau inventaris semua komponen yang membentuk aplikasi perangkat lunak - dan persyaratan kontraktual lainnya, kata juru bicara tersebut.
Ketegangan Geopolitik dan Dominasi Pasar China
Ketegangan antara AS dan China terus meningkat seiring kekhawatiran atas dominasi perusahaan China dalam pasokan perangkat energi strategis. Perusahaan seperti Huawei, Sungrow, dan Ginlong Solis mendominasi pasar inverter dunia. Huawei sendiri menyumbang hampir 30% pengiriman inverter global pada 2022.
Meski Huawei telah hengkang dari pasar AS sejak 2019 setelah pelarangan teknologi 5G-nya, perusahaan ini masih menjadi pemain utama di pasar internasional. Para ahli menyebut bahwa perangkat buatan perusahaan China terikat pada kewajiban hukum untuk bekerja sama dengan lembaga intelijen negaranya, meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi pengawasan atau sabotase.
Menurut konsultan keamanan dari perusahaan Israel SolarEdge, jika sejumlah besar inverter rumah dapat dikendalikan secara serempak dari jarak jauh, konsekuensinya bisa menjadi bencana bagi jaringan listrik Barat.
"Jika Anda mengendalikan sejumlah besar inverter surya rumah dari jarak jauh, dan melakukan sesuatu yang jahat sekaligus, hal itu dapat menimbulkan implikasi yang sangat buruk pada jaringan listrik untuk jangka waktu yang lama," kata Uri Sadot, direktur program keamanan siber di produsen inverter Israel, SolarEdge.
Sejumlah negara Eropa seperti Lithuania dan Estonia telah mulai membatasi penggunaan inverter dan perangkat energi buatan China. Pemerintah Inggris juga tengah melakukan kajian terhadap teknologi energi terbarukan asal China, termasuk inverter, sebagai bagian dari evaluasi keamanan nasional.
Di AS, rancangan undang-undang "Divergence from Foreign Battery Dependence Act" tengah digodok untuk melarang pembelian baterai dari enam produsen besar China, termasuk CATL, BYD, dan Gotion, oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri mulai 2027.
Sementara, beberapa utilitas listrik di AS seperti Florida Power & Light dikabarkan mulai mencari alternatif selain produk China, walau belum ada pernyataan resmi dari perusahaan terkait.
Para analis menilai bahwa ketergantungan tinggi terhadap perangkat energi China telah menjadi risiko strategis. Dewan Manufaktur Tenaga Surya Eropa mencatat bahwa lebih dari 200 gigawatt kapasitas tenaga surya di Eropa kini terhubung ke inverter buatan China—setara dengan lebih dari 200 pembangkit listrik tenaga nuklir.
Seorang pejabat NATO menyebut bahwa upaya China untuk menguasai infrastruktur penting negara-negara anggota semakin nyata. "Kita harus mengenali ketergantungan strategis dan segera mengambil langkah untuk menguranginya," tegas dia.
(prc/wep)





























