Wacana yang semakin intensif ini muncul ketika Washington dan Teheran sedang mengadakan pembicaraan yang sedang berlangsung mengenai aktivitas nuklir Iran. Selama perjalanannya ke Timur Tengah, Trump mengatakan bahwa ia telah mengulurkan “cabang zaitun” ke Teheran, sambil menegaskan bahwa ia tidak akan pernah mengizinkan Iran untuk mendapatkan senjata nuklir.
Meskipun kedua belah pihak telah menunjukkan kemajuan dalam perundingan, para pejabat Iran menuduh AS mengambil posisi yang beragam di balik pintu tertutup dan dengan media, sebuah strategi yang menurut mereka dapat merusak proses tersebut.
Trump mengatakan pada hari Jumat bahwa Iran akan menghadapi “sesuatu yang buruk” jika tidak segera menerima proposal AS mengenai program nuklirnya, sementara para pejabat di Teheran menyebut pesan tersebut “membingungkan dan kontradiktif.”
Pada hari Sabtu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa negaranya tidak ingin meningkatkan ketegangan dengan AS.
“Kami percaya pada negosiasi dan terlibat dalam dialog, tetapi kami tidak takut pada ancaman, dan dalam situasi apa pun kami tidak akan mundur dari hak-hak hukum kami,” kata Pezeshkian.
Washington dan Teheran telah menyelesaikan putaran keempat perundingan yang dimediasi oleh Oman di Muscat pada awal bulan ini, dengan kedua belah pihak sepakat untuk melanjutkannya, meskipun belum ada tanggal yang dijadwalkan untuk diskusi di masa depan.
(bbn)



























