Selain IHSG, Bursa Asia lain yang melaju di jalur hijau adalah TW Weighted Index (Taiwan), Kospi (Korea Selatan), Shenzhen Comp. (China), Straits Times (Singapura), SETI (Thailand), dan Topix (Jepang), yang menguat masing-masing 0,52%, 0,21%, 0,18, 0,15%, 0,11%, dan 0,05%.
Sementara, Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), CSI 300 (China), Hang Seng (Hong Kong), Shanghai Composite (China), SENSEX (India), KLCI (Malaysia), dan PSEI (Filipina) yang melemah masing-masing sedalam 0,90%, 0,46%, 0,46%, 0,40%, 0,29%, 0,08%, dan 0,02%.
Dengan pencapaian positif itu, IHSG mencatat kenaikan tertinggi nomor satu di Asia, dan juga di ASEAN, berdasarkan data Bloomberg, Jumat (16/5/2025).
Penyebab IHSG Melesat
Sejumlah saham menjadi pendorong dan sebab IHSG melesat pada hari ini. Saham-saham infrastruktur, saham barang baku, dan saham energi mencatatkan penguatan paling impresif, dengan masing-masing melesat mencapai 2,44%, 1,85% dan 1,22%.
Adapun saham-saham infrastruktur yang jadi pendorong penguatan IHSG ialah, saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) melejit 17,5% dan saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) juga melesat 7,66%. Sama halnya, saham PT Indosat Tbk (ISAT) juga lompat hingga 3,06%.
Senada, saham barang baku juga melesat menunjang penguatan IHSG, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) terbang 5,74%, saham PT Timah Tbk (TINS) menguat dengan kenaikan 4,91%. Serta, saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menguat 3,87%.
Sentimen yang mendorong kencang laju IHSG adalah datang dari investor asing yang gencar masuk kembali ke pasar saham Indonesia. Efek meredanya tensi perang dagang, dan juga hasil laba bersih sejumlah emiten perbankan di Kuartal I-2025 yang amat positif.
Saham-saham Indonesia tengah bersiap dibanjiri dana investor asing pada bulan ini lantaran berbagai kegelisahan ekonomi telah berlalu dan semakin atraktifnya saham perbankan Indonesia bagi para investor asing.
Pada tanggal 15 Mei 2025 kemarin, pasar saham Indonesia mencatatkan arus masuk asing yang mencapai US$83,8 juta setelah sebelumnya mencatatkan arus keluar asing dalam tujuh bulan. Hal tersebut terjadi seiring IHSG yang saat ini hampir mendekati wilayah bullish, menguat 18% dari titik rendahnya di awal April setelah Amerika Serikat menunda kebijakan tarifnya.
Arus dana tersebut mengindikasikan saham-saham Indonesia kembali diminati usai berbagai sentimen seperti kegelisahan terkait dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi, kebijakan fiskal dari Pemerintahan baru Indonesia dan tensi dari perdagangan global yang menyebabkan turunnya kepercayaan investor global terhadap saham-saham di Indonesia dalam beberapa bulan.
“Sinyal teknikal menunjukkan momentum positif dalam jangka pendek hingga menengah untuk IHSG,” kata Shier Lee Lim, Lead FX dan Macro Strategist Convera Singapore.
Ia menambahkan meningkatnya minat investor terhadap saham perbankan di pasar Asia Tenggara juga turut mendorong Bursa Saham. Saham-saham keuangan menyumbang sekitar 34% dari indeks acuan, menurut data yang dihimpun Bloomberg.
Senada, mengutip riset Panin Sekuritas, penguatan IHSG didorong oleh tensi perang dagang yang turun, tren positif inflow dana asing, serta lebih stabilnya nilai tukar Rupiah.
(fad/ain)



























