Logo Bloomberg Technoz

Toyota Indonesia Lega AS-China Deal Tarif Sementara, Ini Sebabnya

Dovana Hasiana
15 May 2025 08:20

Toyota New Corolla Cross HEV saat IIMS 2025 di JIExpo Kemayoran, Kamis (13/2/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Toyota New Corolla Cross HEV saat IIMS 2025 di JIExpo Kemayoran, Kamis (13/2/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) bersyukur Amerika Serikat (AS) dan China bisa mencapai kesepakatan untuk menurunkan tarif selama 90 hari ke depan.

Presiden Direktur TMMIN Nandi Julyanto semula mengkhawatirkan banjirnya produk kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dari China ke Indonesia bila kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu tidak mencapai kesepakatan.

"Kalau tidak [mencapai kesepakatan], produk China akan mengalir, karena di Eropa sudah diberi tarif yang tinggi. Nanti di AS diberi tarif yang tinggi. Mereka akan masuk ke negara-negara selatan [global south], termasuk Indonesia," ujar Nandi dalam agenda Trump Effect: Bagaimana Indonesia Mendulang Peluang di tengah Perang Dagang, di Jakarta, Rabu (14/5/2025).


Hal ini dinilai akan memengaruhi pasar otomotif di Indonesia, terlebih produk China memiliki harga yang relatif murah. Nandi melihat hal serupa sudah terjadi di Manila, Filipina. Namun, kota tersebut diserbu oleh produk otomotif berbasis hibrida (hybrid) asal China. Hal ini berkaitan dengan karakteristik dari Filipina yang masih kekurangan energi berupa listrik. 

"Sehingga ke Filipina mereka [China] tidak masuk dengan elektrik itu dengan baterai, tetapi masuk dengan hybrid. Jadi memang ini akan terjadi suatu keseimbangan baru menurut saya bagaimana permintaan dan pasokan akan ditentukan oleh pelanggan," ujarnya.