"Namun, kita juga menyiapkan untuk destinasi ekspor-ekspor yang baru yang tentu bisa meningkatkan kapasitas produksi kita sehingga meningkatkan ekonomi di Indonesia."
Dalam kesempatan tersebut, Nandi juga menyinggung dampak tidak langsung yang dirasakan oleh TMMIN akibat perang dagang antara AS dan China. Menurutnya, negara tujuan ekspor seperti Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) khususnya Vietnam dan Thailand, Amerika Latin seperti Meksiko akan terdampak kebijakan Presiden AS Donald Trump.
"Negara-negara itu akan sangat berdampak terhadap kebijakan Trump. Kalau ekonomi mereka menurun, tentu daya beli menurun, sehingga ekspor kita juga akan menurun," ujarnya.
Namun, TMMIN melihat hal tersebut sebagai kesempatan untuk menemukan destinasi baru, melakukan perjanjian perdagangan baru dengan negara tujuan ekspor yang dibantu oleh pemerintah dan sebagainya.
Menyitir data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), ekspor Toyota adalah 13.602 unit pada April 2025. Angka ini turun 1,9% secara bulanan dibandingkan dengan 13.859 unit pada Maret 2025. Secara tahunan, angkanya turun 12,9% dibandingkan dengan 15.614 unit pada April 2024.
AS sepakat untuk memangkas tarif mereka terhadap barang-barang impor dari China dari sebesar 145% menjadi 30%, termasuk tarif yang dikenakan pada fentanil mulai 14 Mei hingga 90 hari ke depan. Sementara Tiongkok juga bersedia menurunkan tarif mereka untuk barang-barang impor dari AS dari sebesar 125% menjadi 10%.
Hal itu disampaikan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam taklimat media yang digelar di Jenewa, pagi waktu setempat atau siang waktu Jakarta.
"Kami telah melakukan diskusi yang sangat kuat dan produktif mengenai langkah-langkah maju terkait fentanil. Kami sepakat bahwa tidak ada pihak yang ingin memisahkan diri," kata Bessent, dilansir dari Bloomberg News, Senin siang.
Bessent juga mengatakan, kedua belah pihak akan membentuk mekansime untuk melanjutkan diskusi tentang hubungan ekonomi dan perdagangan.
(lav)






























