Kedua, memperkuat investasi dan penghiliran atau hilirisasi. Menurutnya, investasi melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dan perluasan hilirisasi diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia.
Anggito mengatakan, upaya ini memang membutuhkan waktu. Namun, kombinasi terhadap dua hal tersebut diharapkan bisa menghasilkan manfaat terhadap perekonomian Indonesia pada 2026, terlepas dari bagaimana kondisi global.
"Namun kalau ekonomi global sudah mencapai kondisi yang lebih stabil, kita harusnya bisa mulai tumbuh di atas ekonomi yang sekarang kita lihat," ujarnya.
Menurut Anggito, tarif Trump juga tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap APBN. Terlebih, dengan adanya jeda 90 hari penerapan tarif kepada seluruh negara kecuali China dan kesepakatan memangkas tarif antara China dan AS selama 90 hari.
Sebelumnya, AS sepakat untuk memangkas tarif mereka terhadap barang-barang impor dari China dari sebesar 145% menjadi 30%, termasuk tarif yang dikenakan pada fentanil mulai 14 Mei hingga 90 hari ke depan. Sementara Tiongkok juga bersedia menurunkan tarif mereka untuk barang-barang impor dari AS dari sebesar 125% menjadi 10%.
Hal itu disampaikan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam taklimat media yang digelar di Jenewa, pagi waktu setempat atau siang waktu Jakarta.
"Kami telah melakukan diskusi yang sangat kuat dan produktif mengenai langkah-langkah maju terkait fentanil. Kami sepakat bahwa tidak ada pihak yang ingin memisahkan diri," kata Bessent, dilansir dari Bloomberg News, Senin siang.
Bessent juga mengatakan, kedua belah pihak akan membentuk mekansime untuk melanjutkan diskusi tentang hubungan ekonomi dan perdagangan.
(lav)




























