Logo Bloomberg Technoz

Pergerakan saham GIAA saat itu parkir pada level Rp57/saham. Setelah emiten maskapai penerbangan pelat merah ini naik 5 poin atau setara dengan 9,62%. Volume transaksi tercatat 384 juta saham. Nilai transaksi sebesar Rp21,7 miliar.

Adapun frekuensi yang terjadi sejumlah 2.716 kali. Ini menjadi menarik, karena menjadi frekuensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan frekuensi perdagangan saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) yang hanya 1.854 kali.

Posisi tersebut jauh lebih baik dibanding posisi per Jumat (19/5/2023). Kala itu, harga saham GIAA ditutup ambles 5,56% ke posisi Rp 51/saham.

Kembali Terbangkan Jemaah Haji

Pergerakan harga saham GIAA berbarengan dengan dibukanya penerbangan jemaah haji. GIAA memastikan akan menambah frekuensi penerbangan menuju Arab Saudi selama musim haji tahun ini.

Rencananya, ada 23 penerbangan tambahan untuk melayani pada jemaah. Penerbangan tambahan ini akan digunakan untuk kemaah haji program ONH Plus dan firoda.

Ada sekitar 287 kloter jemaah haji yang dilayani GIAA dan semuanya adalah jemaah reguler. GIAA juga menyiapkan satu pesawat cadangan yang akan digunakan jika pesawat lain membutuhkan waktu perbaikan.

Terlepas dari sentimen haji, kinerja keuangan GIAA masih negatif. Pada kinerja keuangan kuartal I-2023. Garuda Indonesia mencetak rugi bersih mencapai US$110,03 juta atau setara dengan Rp1,61 triliun.

Sejatinya pendapatan Garuda Indonesia meningkat signifikan dari sebelumnya US$350,15 juta pada kuartal I-2022 menjadi senilai total US$602,99 juta pada kuartal I-2023.

Meningkatnya pendapatan didukung penuh oleh pendapatan dari segmentasi penerbangan berjadwal sebesar US$506,82 juta, serta segmentasi pendapatan lain-lain yang naik menjadi US$83,35 juta.

Meski pendapatan melesat 72%, beban terpantau cukup besar, yakni beban operasional mencapai US$346,18 juta dan beban pemeliharaan US$78,82 juta. Bersamaan dengan beban yang tinggi, Garuda Indonesia juga mencetak beban keuangan US$110,75 juta.

Adapun kerugian yang terjadi pada kuartal I-2023 ini membebani dalam pos ekuitas yang sudah negatif sejak 2022 kemarin. Ekuitas Garuda Indonesia tercatat minus US$1,6 miliar atau setara dengan Rp23,6 triliun. 

(dhf/roy)

No more pages