“Tidak ada yang memperkirakan tarif serendah ini untuk produk China. Ini kejutan besar,” ujar Jeff Buchbinder dari LPL Financial. “Risiko tarif kembali naik tetap ada saat masa jeda berakhir, tapi setidaknya skenario terburuk sudah keluar dari meja perundingan.”
S&P 500 berhasil menembus rata-rata pergerakan 200 harinya. Nasdaq 100 naik 4%, dan Dow Jones Industrial Average melonjak lebih dari 1.000 poin. Indeks saham perusahaan-perusahaan raksasa melesat 5,7%. Trump mengatakan telah berbicara dengan CEO Apple, Tim Cook, di tengah laporan bahwa Apple tengah mempertimbangkan kenaikan harga produk. Saham perusahaan farmasi juga naik karena pasar memperkirakan sektor ini terhindar dari skenario pemangkasan harga paling buruk yang sebelumnya diwacanakan Trump.
Imbal hasil obligasi AS tenor dua tahun naik 12 basis poin hingga menembus 4%. Indeks Dolar Bloomberg menguat 1%.
“Penurunan tarif yang lebih besar dari perkiraan antara AS dan China, meskipun bersifat sementara, serta dibentuknya kerangka diskusi lanjutan, adalah kabar yang sangat dinanti pasar saham,” kata Carol Schleif dari BMO Private Wealth.
Kenaikan pasar mencerminkan bahwa para investor tidak memperkirakan hasil sepositif ini akan datang secepat itu, ujar Ulrike Hoffmann-Burchardi dari UBS Global Wealth Management. Kesepakatan ini konsisten dengan proyeksi UBS bahwa tarif efektif AS terhadap impor China akan bertahan di kisaran 30–40%.
“Sekarang investor akan fokus pada tanda-tanda apakah solusi sementara ini bisa berkembang menjadi kesepakatan jangka panjang,” katanya.
Bagi Matt Maley dari Miller Tabak, berita perjanjian dagang antara AS dan China jelas menjadi katalis positif bagi pasar saham. Namun, menurutnya, pertanyaannya kini adalah apakah perubahan ini cukup untuk membalikkan arah pertumbuhan laba perusahaan secara signifikan atau tidak.
“Bayangkan ini seperti embargo dagang yang untuk sementara dicabut,” ujar Callie Cox dari Ritholtz Wealth Management. “Tarif masih tinggi, masyarakat AS kemungkinan masih akan merasakan efek harga yang lebih mahal, dan perusahaan pun mungkin belum akan mengubah strategi mereka dalam waktu dekat. Tapi, perdagangan antara AS dan China bisa saja kembali mengalir, artinya pengiriman barang lebih banyak dan rak toko yang lebih penuh — setidaknya untuk saat ini.”
“Masih ada jalan panjang menuju kesepakatan sejati,” kata Jamie Cox dari Harris Financial Group. “Kabar baiknya, jeda ini memberi waktu tambahan bagi perusahaan-perusahaan AS untuk menyesuaikan diri dan membuat rencana cadangan jika pembicaraan kembali menemui jalan buntu. Selain itu, jika beruntung, paket pajak mungkin bisa segera disahkan dan investor tidak perlu lagi cemas soal isu perdagangan yang mengganggu reformasi pajak.”
Investor yang mengikuti saran Trump di media sosial selama sebulan terakhir menikmati salah satu reli terbesar di bawah kepemimpinannya.
Setelah terpuruk akibat pengumuman tarif pada “Hari Pembebasan”, pasar melonjak dalam sebulan setelah Trump menyebut pada 9 April bahwa saat itu adalah “waktu yang tepat untuk membeli” — hanya beberapa jam sebelum ia menangguhkan sejumlah tarif terberat dalam satu abad terakhir. Trump kembali menegaskan pandangannya itu pada 8 Mei, dengan menyatakan bahwa prospek ekonomi mendukung penguatan pasar saham.
Meski sentimen terhadap pasar saham AS membaik, menurut para analis Morgan Stanley, masih terlalu dini bagi investor untuk benar-benar tenang.
Tim analis yang dipimpin Michael Wilson mengidentifikasi empat faktor yang dibutuhkan untuk mempertahankan reli jangka panjang, namun sejauh ini baru dua yang menunjukkan kemajuan: “Optimisme terhadap kesepakatan dagang dengan Tiongkok dan stabilnya revisi laba perusahaan,” tulis mereka dalam catatan Senin.
“Dua faktor lain — sikap The Fed yang lebih dovish dan imbal hasil obligasi 10 tahun di bawah 4% tanpa data ekonomi resesi — masih belum terlihat.”
Dengan kabar positif dari perundingan dagang yang mendorong penguatan pasar di awal pekan ini, menurut Chris Larkin dari E*Trade Morgan Stanley, laju ini selanjutnya akan sangat ditentukan oleh data inflasi, penjualan ritel, dan laporan keuangan.
“Masih ada perdebatan tentang seberapa besar gangguan rantai pasok yang sudah terjadi akibat tarif dan dampaknya terhadap pertumbuhan,” ujar Larkin. “Jika data yang keluar mengarah ke narasi stagflasi, tentu saja bisa mengguncang sentimen pasar. Namun, sejauh ini ekonomi masih tampak kuat, seperti yang dikatakan Jerome Powell pekan lalu.”
Kontrak swap yang melacak pertemuan The Fed berikutnya kini hanya mencerminkan pemangkasan suku bunga sebesar 56 basis poin hingga Desember, turun dari 75 basis poin pekan lalu. Pelaku pasar masih memperkirakan pemangkasan suku bunga pertama akan terjadi pada September.
Deputi Gubernur The Fed, Adriana Kugler, mengatakan bahwa kebijakan tarif pemerintahan Trump kemungkinan akan mendorong inflasi dan membebani pertumbuhan ekonomi, meskipun ada pengurangan tarif terbaru untuk produk dari China.
“Kebijakan perdagangan sedang berkembang dan kemungkinan akan terus berubah, bahkan sejak pagi ini,” ujar Kugler dalam pidato yang disiapkan untuk sebuah acara di Dublin, Senin. “Namun demikian, kebijakan tersebut tampaknya tetap akan membawa dampak ekonomi yang signifikan, bahkan jika tarif bertahan di level yang telah diumumkan saat ini.”
Gubernur The Fed Chicago, Austan Goolsbee, dalam wawancara terpisah dengan New York Times pada Senin, menyebut bahwa situasi tarif saat ini tetap membawa risiko tinggi terhadap harga dan pertumbuhan. Menurutnya, sifat sementara dari kesepakatan dagang AS-China dan tarif tinggi secara keseluruhan akan terus menekan perekonomian.
(bbn)




























