Logo Bloomberg Technoz

Cadev Anjlok, Biaya Intervensi Rupiah Termahal Sejak 2023

Redaksi
08 May 2025 15:30

Ilustrasi Dolar AS (Sumber: Bloomberg)
Ilustrasi Dolar AS (Sumber: Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai cadangan devisa (cadev) yang terkuras hingga US$ 4,6 miliar selama April menunjukkan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan Indonesia untuk menahan kejatuhan rupiah terhadap dolar AS di tengah guncangan pasar global yang besar, ketika dari dalam negeri mata uang tidak cukup punya sokongan fundamental yang kuat.

Penurunan nilai cadangan devisa sebesar itu, menjadi penurunan cadev terbesar sejak Mei 2023 silam. Pada Mei dua tahun lalu, cadev juga pernah ambles sampai US$ 4,88 miliar, terbesar sejak pandemi. Lagi-lagi karena terkuras untuk stabilisasi rupiah yang pada bulan tersebut nilainya melemah sampai lebih dari 2%.

April lalu, rupiah sempat menyentuh level terlemah dalam sejarah tercatat, yakni di Rp16.957/US$ di pasar spot akibat guncangan 'bom tarif resiprokal' Amerika Serikat. Di pasar offshore, rupiah NDF bahkan diperdagangkan di level Rp17.339/US$ ketika itu.


Arus keluar modal asing yang begitu besar, mencapai lebih dari Rp60 triliun, terutama dari Sekuritas Rupiah (SRBI), juga dari pasar saham, menekan rupiah nyaris menjebol level psikologis Rp17.000/US$ di pasar spot.

Nilai cadangan devisa RI ambrol dengan nilai terbesar sejak Mei 2023 (Bloomberg)

Bank Indonesia habis-habisan mengintervensi baik di pasar valas spot, pasar NDF domestik juga di pasar surat utang negara. Bahkan untuk pertama kali setelah sekian lama, melalui keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) insidentil tanggal 7 April, BI memutuskan memperluas cakupan intervensi hingga ke pasar offshore (mancanegara) untuk menahan kejatuhan rupiah.