Logo Bloomberg Technoz

“Artinya, laut kita tidak hanya kaya, tapi juga menjadi penopang kehidupan,” kata Gibran. 

Putra sulung Presiden RI ke-7 Joko Widodo (Jokowi) itu menjelaskan; setiap tahun Indonesia dapat memproduksi 9,7 juta ton rumput laut; 7,4 juta ton perikanan tangkap; dan 5,6 juta ton ikan budi daya. 

“Bayangkan jika produksi kelautan dan perikanan tersebut bisa kita olah dulu di dalam negeri. Ribuan ton rumput laut yang selama ini kita jual mentah ke luar negeri, jika diolah dulu menjadi kosmetik, nilai tambahnya bisa mencapai 15 hingga 30 kali lipat. Brand-brand kosmetik kita bisa mendunia,” ujar Gibran. 

Menurut dia, hilirisasi komoditas laut bisa membuat masyarakat lokal lebih sejahtera. Bahkan, dia memaparkan industri hilirisasi tersebut akan membuka lapangan kerja dan meningkatkan roda ekonomi. Hal ini akan menyedot tenaga kerja sebagai pekerja pabrik, ahli kimia, desainer kemasan, pemasaran, periklanan, dan banyak pekerjaan lainnya. 

Tak hanya itu, ruang usaha juga akan mendapatkan peluang akibat adanya aktivitas ekonomi. Dia mencontohkan ketika sebuah perusahaan atau pabrik didirikan, maka akan bermunculan warung makan, toko kelontong, kos-kosan, layanan jasa ojek, pengepul sampah, bahkan jasa cukur di wilayah tersebut. 

“Inilah yang membuat uang berputar dan ekonomi bergerak,” ucap Gibran. 

“Itu baru satu jenis produk turunan. Sedangkan rumput laut memiliki banyak jenis produk turunan seperti agar-agar, bioplastik, bioavtur, bubuk, farmasi, dan masih banyak lagi. Itu juga baru satu jenis komoditas." 

Selain itu, Indonesia memiliki banyak jenis komoditas unggulan lainnya. Gibran membeberkan bahwa produksi ikan Tuna, Cakalang, Tongkol di Indonesia bisa mencapai 1,5 juta ton per tahun. Jumlah yang tinggi juga pada produksi udang, rajungan, tilapia, dan garam. 

Enam komoditas tersebut yang akan menjadi komoditas prioritas di hilirisasi kelautan dan perikanan. 

Menurut dia, mewujudkan keinginan tersebut memiliki banyak tantangan. Indonesia membutuhkan kawasan industri dengan tempat penyimpanan dingin atau cold storage dan infrastruktur dasar yang memadai. 

Kemudian didukung oleh akses permodalan bagi nelayan, pembudi daya, dan UMKM perikanan yang lebih luas. Serta teknologi terkini terkait produksi dan pengolahan yang efisien juga ramah lingkungan. Lalu ekspertis  angkatan kerja yang kompeten dan inovatif hingga Iklim investasi yang kondusif dan pemberantasan ilegal fishing.  

Gibran mengungkapan Presiden Prabowo Subianto sendiri telah menyampaikan tentang pentingnya hilirisasi kelautan. Menurutnya, pemerintah akan berupaya maksimal untuk mewujudkan hilirisasi laut tersebut. 

Di sejumlah pertemuan internasional, kata dia, Prabowo juga aktif mendorong peningkatan kerja sama kelautan antar negara seperti di KTT D8. Di Brazil, Prabowo disebut telah mengundang investasi ekonomi biru dan kapal penangkap ikan.

Di dalam negeri, pemerintah juga telah membuat satuan tugas atau Satgas Percepatan Hilirisasi yang tengah merumuskan strategi, memetakan pembiayaan, dan mencari solusi atas hambatan hilirisasi yang ada di lapangan. 

“Namun sekali lagi, ini adalah kerja bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan partisipasi swasta, dukungan masyarakat, dan kolaborasi anak-anak muda,” ujar Gibran.

(mfd/frg)

No more pages