Logo Bloomberg Technoz

Dominasi yang dimaksud mencakup persoalan tenaga kerja asal China dalam jumlah sangat besar di semua level produksi, hingga soal komitmen untuk transfer teknologi yang perlu diperkuat.

Untuk itu, Bisman menilai masalah kedaulatan dan kepentingan nasional—yang diwakilkan oleh IBC — di Proyek Titan menjadi sangat pentingn untuk diwaspadai.

Sebelumnya, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani angkat bicara soal dipilihnya investor Huayou untuk menggantikan posisi yang ditinggalkan LGES di megaproyek baterai EV nasional.

Rosan mengatakan Huayou sudah lama terpikat untuk berinvestasi di Proyek Titan, terlebih mereka dinilai memiliki teknologi yang mumpuni untuk pengembangan industri baterai EV.

Di sisi lain, komitmen LGES untuk melanjutkan investasinya di Proyek Titan, yang berkongsi dengan IBC, terus terkatung-katung.

Untuk itu, kata Rosan, pada 31 Januari 2025 pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyurati CEO LGES dan LG Chem Ltd untuk memutus komitmen dari perusahaan Korea Selatan tersebut agar Proyek Titan bisa segera berprogres.

“Mereka [Huayou] hanya menggantikan posisi dari LG. Memang di dalam [konsorsium yang terlibat Proyek Titan] itu tidak hanya Antam, tetapi juga ada IBC. Itu adalah anak dari Antam dan JV [joint venture/usaha patungan] yang lainnya,” ujarnya ditemui di kompleks Istana Negara, Rabu (23/4/2025) petang.

Dengan beralihnya peran LGES ke Huayou di Proyek Titan, Rosan memastikan total komitmen investasi kumulatif terhadap keseluruhan proyek baterai Indonesia Grand Package tidak akan berubah dari US$9,8 miliar (sekitar Rp165,32 triliun).

Baterai untuk mobil listrik produksi LG Energy Solution. (Dok: Bloomberg)

Sudah Pengalaman

Saat ditanya mengenai pemilihan Huayou untuk menggantikan posisi LGES di Proyek Titan, Rosan menjelaskan perusahaan China tersebut sudah memiliki pengalaman investasi di sektor penghiliran nikel Indonesia dengan nilai yang jauh lebih besar sebelumnya.

“Mereka pun sudah berinvestasi di daerah Weda Bay juga. Jadi mereka sudah sangat-sangat paham, sangat-sangat mengerti. Pada saat bersamaan, mereka juga sudah mempunyai sumber daya untuk pengembangan ini ke depannya,” tutur Rosan.

“Untuk itu, Huayou yang masuk rencananya untuk menggantikan LG.”

Rosan juga menegaskan pemerintah sudah bertemu dengan perwakilan Huayou untuk membahas rencana pengambilalihan posisi LGES di Proyek Titan.

Pihak Huayou pun memberikan respons positif lantaran perusahaan tersebut sudah mengincar posisi tersebut sejak 2024.

“Jadi sebenarnya dalam konsorsium LG itu memang sudah ada Huayou-nya. Akan tetapi, mereka sekarang yang menjadi leading consortium. Itu saja.”

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pertama kali mengumumkan Huayou bakal menggantikan posisi yang LGES di proyek Titan, usaha patungan baterai dengan IBC.

Bahlil menggarisbawahi, secara keseluruhan, proyek hilirisasi bijih nikel menjadi baterai EV di Tanah Air tidak mengalami perubahan mendasar.

Hal yang terjadi, kata Bahlil, hanyalah penyesuaian mitra investasi dalam struktur usaha patungan atau joint venture (JV) di Proyek Titan yang bernilai hampir US$8 miliar (sekitar Rp135 triliun) tersebut.

"Perubahan hanya terjadi pada level investor, di mana LG tidak lagi melanjutkan keterlibatannya pada JV 1, 2, dan 3 yang baru, dan telah digantikan oleh mitra strategis dari China, yaitu Huayou, bersama BUMN kita," ujarnya melalui siaran pers, Rabu (23/4/2025).

Dia pun menekankan bahwa, secara konsep, pembangunan megaproyek baterai yang juga dijuluki Indonesia Grand Package tersebut tidak ada yang berubah. "Infrastruktur dan rencana produksi tetap sesuai dengan peta jalan awal."

Bahlil berharap pergantian posisi investor dari LGES ke Huayou dapat mempercepat rencana investasi baterai EV dari lini kerja sama IBC pada Proyek Titan tersebut.

Sekadar catatan, Huayou sendiri sebenarnya bukan 'wajah baru' di Proyek Titan. Lewat head of agreement (HoA) yang diteken pada 2021, konsorsium LGES saat itu menggandeng beberapa rekanan produsen dan manufaktur yang mayoritas berbasis di Korea Selatan seperti LGES, LG Chem, LG International dan Posco.

Sementara itu, satu mitra mereka berasal dari China yakni Huayou Holding. Namun, dalam perkembangannya, Proyek Titan kerap diterpa isu negosiasi yang alot dengan pihak LGES.

(wdh)

No more pages