Setelah investasi di Indonesia untuk SGAR, kata Dilo, Arab Saudi dapat membeli alumina dari Indonesia untuk kemudian diolah sebagai produk lanjutan Aluminium.
Di sisi lain, Dilo mengatakan, holding tambang pelat merah turut menjajaki kesempatan investasi bersama dengan Ma’aden untuk pembangunan smelter aluminium di Arab Saudi.
Menurut Dilo, biaya listrik di Arab Saudi untuk menggerakan smelter aluminium relatif kompetitif dibandingkan dengan beberapa negara produsen aluminiun lainnya.
Dia menuturkan biaya listrik per kilowatt per hour (kWh) di Arab Saudi hanya sekitar 3 sen sampai dengan 4 sen. Hanya saja, kemungkinan investasi di Arab Saudi masih tahap diskusi awal.
“Mungkin Indonesia akan ikut investasi di sana. Tapi aluminiumnya [RI] minta nih. Karena kebutuhan aluminium di dalam negeri harus bisa dipenuhi,” kata dia.
Dilo menuturkan hingga saat ini kebutuhan aluminium di Tanah Air masih kurang sekitar 1 juta ton. “Belum untuk kebutuhan ekspornya aluminiumnya,” ujarnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pemerintah berencana menjajaki peluang kerja sama dengan Arab Saudi untuk mengembangkan hilirisasi mineral, termasuk petrokimia sebagai salah satu bahan baku penting industri manufaktur.
Agus mengatakan, peluang kerja sama tersebut, yang akan dilanjutkan melalui penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) tersebut dilakukan usai bertemu dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arab Saudi, Yang Mulia Bandar Al-Khorayef di Jakarta, Rabu (16/4/2025).
"Mereka siap akan prestasi di dalam sektor mineral Indonesia, kita masuk dalam rangka untuk men-secure kekuatan deposit atau market yang ada di dalam portofolio Arab Saudi tersebut," ujar Agus kepada awak media usai pertemuan tersebut.
Selain itu, kata Agus, Arab juga akan belajar kepada Indonesia untuk mengembangkan sektor industri lantaran negara tersebut kini baru memulai Industrialisasi, sebagai respons atas gejolak dagang imbas kebijakan Amerika Serikat (AS).
Hal itu dilakukan karena Indonesia dinilai cocok menjadi negara percontohan, yang saat ini juga diklaim telah dikelola cukup baik, dengan lebih dari 150 kawasan industri dalam negeri.
Agus mengatakan, rencana kerja sama tersebut juga dilakukan lantaran transaksi perdagangan antarkedua negara saat ini baru mencapai US$3,3 miliar (sekitarRp55,57 triliun).
Dia berharap rencana ini mampu meningkatkan nilai dagang kedua negara, meski tak memerinci lebih jauh berapa target nilai dagang yang dimaksud tersebut.
"Saya kira room to grow-nya begitu besar, saya tidak bicara soal surplus atau defisit, karena memang faktanya kita defisit," tuturnya.
(mfd/naw)
































