Bagi mereka yang belum yakin berinvestasi, bisa mengambil posisi wait and see dan bisa masuk ke instrumen reksa dana pasar uang atau pendapatan tetap (fixed income), Reza menyarankan.
Trump Meruntuhkan Pasar Emerging
Bursa di kawasan ASEAN sudah membuktikan efek dari Trump's Tariff pada Senin kemarin, mengekor Wall Street yang ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya. Selasa pagi hari ini menjadi penentuan apakah kondisi sesuai yang diprediksikan atau anomali.
Data Bloomberg menunjukkan bahwa indeks saham negara berkembang utama MSCI telah drop 7,9%, kemerosotan terbesar sejak krisis keuangan global 2008. Perang dagang yang diresmikan Trump telah mendapat balasan dari China, yang memutuskan tarif baru atas barang-barang Amerika.
Black Monday yang terjadi kemarin di negara-negara berkembang telah membuat skor penurnan saham 6,9% sepanjang tahun ini, dikutip dari Bloomberg News. Meski demikian capaian ini masih lebih baik daripada penurunan S&P 500 di 14%.
Pada bagian lain, indeks MSCI untuk mata uang negara berkembang, yang memangkas kenaikan tahun 2025 karena investor berbondong-bondong kembali ke dolar, masih naik 1,2% dalam rentang waktu tersebut.
“Pasar emerging masih berada di bawah tekanan, tetapi ancaman tarif baru yang ditujukan kepada China telah memperburuk aksi jual,” kata Brendan McKenna, pakar strategi mata uang di Wells Fargo di New York. “Pasar amat terkejut dengan tingkat tarif pada mitra dagang global dan juga tingkat tarif yang akhirnya diberlakukan.”
Rupiah Bisa ‘Longsor’?
Peluang pelemahan kurs rupiah juga terbuka seiring dengan potensi koreksi IHSG dengan posisi kontrak NDF-1M mata uang lokal Indonesia telah bergerak di kisaran Rp17.339/US$, data Bloomberg menunjukkan hari Senin.
Dalam beberapa enam bulan terakhir memang rupiah telah terkoreksi sekitar 11% dan sejalan dengan pelemahan indeks dolar/DXY secara umum, ungkap Satria, “dengan sebagian besar mata uang Asia yang justru terapresiasi baru-baru ini.”
Mengurai pelemahan kurs dalam perspektif lain, hal ini justru menawarkan lindung nilai alamiah terhadap tarif AS. Akan terjadi peningkatan daya saing ekspor manufaktur Indonesia ke AS. Kemudian, mengangkat daya tarik ekuitas dan obligasi Indonesia di kalangan investor asing.
Dalam kalkulasi Satria sumbangan nilai ekspor Indonesia ke Amerika terhadap GDP relatif rendah, sekitar 2%. Bandingkan dengan Thailand 11%, Malaysia 10%.
Dengan produk ekspor Indonesia akan dikenakan pajak 32% oleh pemerintah Amerika, “ini tetap merupakan salah satu tarif impor terendah di antara negara-negara pusat tenaga kerja murah, dengan bea masuk hampir 37-49% yang diberlakukan kepada Bangladesh, Kamboja, Cina, Sri Lanka, dan Vietnam - para pesaing kita untuk menarik FDI.”
(rtd/wep)




























