Perintah terbaru dari Trump menandai pemberian tenggat kedua untuk memberi waktu bagi penyelesaian kesepakatan. Namun, perpanjangan kali ini melampaui batasan undang-undang yang mengatur divestasi atau pelarangan, di mana presiden hanya diizinkan memberikan perpanjangan satu kali tidak lebih dari 90 hari.
Untuk mempercepat proses kesepakatan, Trump menunjuk sejumlah pejabat senior pemerintahannya untuk menyeleksi calon pembeli potensial. Portofolio negosiasi ini berada di bawah kendali Wakil Presiden JD Vance dan Penasihat Keamanan Nasional Mike Waltz.
Menurut dua sumber yang mengetahui isi pertemuan, Trump dan beberapa pejabat tinggi telah meninjau proposal dari konsorsium investor AS, termasuk Oracle Corp, Blackstone Inc, dan perusahaan modal ventura Andreessen Horowitz, yang menjadi kandidat kuat dalam akuisisi TikTok.
Dalam rancangan kesepakatan tersebut, investor luar akan memiliki 50% saham bisnis TikTok di AS yang akan dipisahkan dari ByteDance. Investor ByteDance yang sudah ada di AS juga akan memiliki sekitar 30% saham, sehingga kepemilikan ByteDance turun menjadi di bawah 20%. Skema ini dirancang untuk memenuhi syarat kepemilikan berdasarkan undang-undang keamanan nasional AS.
Proposal tersebut mencakup rencana Oracle mengambil saham minoritas dan memberikan jaminan keamanan data pengguna. Sementara itu, algoritma utama TikTok tetap akan dimiliki oleh ByteDance—strategi yang dinilai dapat mengurangi hambatan dari pihak ByteDance maupun pemerintah China.
Pada Jumat, Trump kembali menyatakan harapannya agar China bersedia terlibat dalam negosiasi, bahkan membuka peluang keringanan tarif sebagai imbalan atas persetujuan Beijing.
"Kami berharap dapat terus bekerja sama secara baik dengan China, meskipun saya paham mereka tidak senang dengan kebijakan tarif timbal balik kami (yang diperlukan demi perdagangan yang adil antara AS dan China!)," tulis Trump. "Ini membuktikan bahwa tarif adalah alat ekonomi paling kuat, dan sangat penting bagi keamanan nasional! Kami tidak ingin TikTok 'menghilang'. Kami menantikan kerja sama dengan TikTok dan China untuk menyelesaikan kesepakatan ini."
Meski demikian, para pengkritik menyebut bahwa tetap membiarkan algoritma berada di tangan ByteDance berarti melanggar undang-undang divestasi atau pelarangan dan membuka celah bagi China untuk mengakses data pengguna secara tidak langsung. Mereka berpendapat bahwa kepemilikan algoritma oleh pihak China bisa tetap memunculkan risiko penyebaran propaganda—klaim yang sebelumnya dibantah ByteDance maupun pejabat Beijing.
Dukungan Trump terhadap TikTok menunjukkan perubahan sikap dibanding masa jabatannya sebelumnya, di mana ia sempat mencoba melarang aplikasi tersebut pada 2020 karena alasan keamanan nasional. Namun, dalam kampanye kembalinya ke Gedung Putih tahun lalu, Trump justru menggunakan TikTok untuk menjangkau pemilih muda dan mengklaim platform itu berkontribusi pada kemenangannya di Pilpres November.
Pada 2020, Oracle sempat menjadi pilihan utama Trump untuk mengakuisisi TikTok dari ByteDance melalui konsorsium bersama Walmart Inc. Namun kesepakatan tersebut gagal karena menghadapi gugatan hukum dari ByteDance serta dampak pandemi Covid-19.
Pekan ini, Amazon.com Inc juga mengajukan tawaran ke Gedung Putih melalui surat yang ditujukan kepada JD Vance dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick. Namun, menurut sumber yang mengetahui proses ini, tawaran Amazon belum dianggap serius oleh pemerintahan Trump.
Beberapa tawaran lain yang diketahui publik termasuk konsorsium yang dipimpin miliarder Frank McCourt dan salah satu pendiri Reddit Alexis Ohanian; proposal dari Jesse Tinsley dan YouTuber MrBeast; tawaran merger dari Perplexity AI yang berbasis di San Francisco; serta penawaran dari AppLovin Corp.
(bbn)




























