"Nah yang paling gampang secara visual mba secara visual barang branded, barang yang punya merek gitu loh ya ini kalau kita lihat iPhone, kita lihat mobil, kita lihat tas, baju, sepatu itu yang menjadi sesuatu yang langsung kita bisa perlihatkan gitu."
Faktor berikut seseorang melakukan flexing dari segi ekonomi. Seseorang yang berangkat dari kampung halaman ke Kota ketika balik akan menunjukkan suatu keberhasilan yang ia capai di kota besar seperti Jakarta.
"Kamu harus berhasil gitu lho, harus kelihatan berhasil masa iya capek-capek, tinggalin keluarga misalnya ada yang tinggalin anak, istri atau suami gitu ya tapi nggak berhasil gitu, nah show off ini kepada teman-teman ya mungkin gitu ya, kalau yang di kampung agak sulit untuk bisa memperlihatkan itu karena mereka ketahuan apa adanya berada di luar kota kan nggak ketahuan tinggalnya di mana, bagaimana sulitnya kehidupan,"ujarnya.
Novita pun mengingatkan bahwa perilaku memamerkan kekayaan atau kehidupan mewah (flexing) akan berakibat fatal apabila ternyata hal itu tidak realita dengan kesanggupan finansial yang dimiliki.
Untuk itu, belajar strategi mengelola keuangan sejak kecil memang diperlukan agar dikemudian dewasa nanti akan bisa bijak dalam membeli keperluan atau keinginan dan mencegah tindak perilaku pamer harta kekayaan (flexing).
"Bisa sewa gampang banget cuma kasih misalnya ada deposit gitu loh deposit yang sekian persen kan kalau barangnya rusak, bajunya rusak, tasnya rusak ada jaminannya gitu loh. Tapi lupa, cicilan itu tanggung jawab cicilan itu harus dibayar akhirnya terbeli nanti dengan utang sampai yang kita lihat kasus-kasus bunuh diri karena terjerat dengan pinjol-pinjol ini,"imbuhnya.
(dec/spt)






























