Banyak yang menyebut sektor digital sedang mengalami “tech winter”, masa-masa lesu akibat perubahan ekonomi global dan penyesuaian bisnis. Namun Hilmi mengungkapkan bahwa tren ini mulai membaik. Ia menekankan bahwa inovasi dan kedekatan dengan kebutuhan konsumen adalah faktor penting yang membuat e-commerce kembali dilirik.
“Hopefully near to end... kita harus optimis,” ujarnya mantap.
Optimisme ini terlihat dari meningkatnya minat masyarakat terhadap produk lokal selama Harbolnas terakhir. Berdasarkan data idEA, penjualan produk lokal menembus angka 52%, naik dari biasanya yang di bawah 50%.
“Kita bisa lihat bahwa ada shifting antara preferensi pengguna, dari yang lebih suka produk impor, ke produk lokal,” papar Hilmi.
Ramadan dan Spirit Belanja
Ramadan memang identik dengan lonjakan transaksi online. Tak hanya baju lebaran dan kebutuhan pokok, parcel dan makanan juga menjadi barang populer.
“Padahal katanya setan diikat, tapi belanja tetap ya,” canda Winda yang disambut tawa hangat.
Hilmi menekankan bahwa campaign Ramadan sangat memengaruhi perilaku konsumen. Promo, free ongkir, hingga cashback menjadi pemicu utama keputusan belanja.
“Di Indonesia memang masih promo-sensitif ya. Promo itu masih jadi faktor besar,” kata Hilmi.
Host Sisi juga menyinggung fenomena belanja “masuk keranjang dulu, check-out pas gajian atau angka kembar”. Hilmi mengangguk, menambahkan bahwa jenis perilaku ini menjadi tantangan tersendiri dalam strategi kampanye digital yang efektif.
Salah satu tren yang terus naik adalah social commerce, yaitu e-commerce yang memanfaatkan kekuatan media sosial dan interaksi langsung, seperti live shopping. Hilmi menjelaskan bahwa social commerce membuka peluang baru bagi job creation seperti affiliate marketing dan host live streaming.
“Social commerce itu justru memunculkan banyak job creation baru,” jelas Hilmi.
Fenomena ini juga dinilai positif karena dapat menjembatani UMKM yang unggul di sisi produksi, namun masih kurang dalam hal pemasaran.
“Affiliate itu akhirnya jadi pemasar. Mereka yang pasarin, dengan komisi sebagai motivasi,” tambahnya.
Namun, Hilmi tidak menutup mata terhadap tantangan yang masih ada, terutama soal literasi digital dan gap akses antara wilayah urban dan rural. Perbedaan pemahaman, bahkan dalam hal sederhana seperti review produk, kerap jadi kendala.
Saksikan kisah lengkap dan inspiratif ini di Bloomberg Technoz Podcast - Ramadan Spark, eksklusif di www.bloombergtechnoz.com, bersama Sisi Aspasia, Winda Mizwar, dan Hilmi Adrianto.
(btp)





























